Selasa, 14 Juli 2009

Panggil Aku Linda


Cerpen J. Kamal Farza

Bis Pelangi pelan-pelan bergerak meninggalkan stasiun Gajahmada, seiring menghilangnya suara hiruk pikuk kondektur yang menata tempat duduk penumpang। Bis kemudian mengencang, dan sesekali melambat menyiasati jalanan yang padat.


Aku masih duduk sendirian. Duduk di sisi paling kanan ‘bis 21’ yang membawaku dari Medan ke Banda Aceh. Di sisi paling kiri kulihat seorang ibu, mungkin seumur 50an duduk di bangku tunggal. Dia sudah menarik selimut untuk menghindari dingin yang dipancarkan AC. Tarikan selimutnya beriringan pula dengan tarikan kantuknya yang kemudian membawanya tertidur.
Entah kenapa, kondektur membiarkan kursi di sampingku kosong. “Mungkin ada penumpang yang batal berangkat,” gumamku.

Untuk mengusir dingin dan kebosanan di perjalanan, aku raih jaket dan sebuah buku di ranselku. Kunyalakan lampu baca, dan mulai melanjutkan membaca, halaman bertanda novel Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol. Sebuah kisah yang menceritakan seorang pekerja seksual komersial, yang menggugat lembaga perkawinan sebagai lembaga yang dibangun di atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum perempuan. “Aku bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami aku, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur.”

Kemudian aku membaca hal 147: “....Mereka menghukum aku sampai mati bukan karena aku telah membunuh seorang lelaki – beribu-ribu orang yang di bunuh tiap hari—tetapi karena mereka takut untuk membiarkan aku hidup. Mereka tahu bahwa selama aku masih hidup mereka tidak akan aman, aku akan membunuh mereka. Hidup aku berarti kematian mereka, kematian aku berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, perampokan, perampasan. Aku telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena aku sudah tak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi takut mati.”...

Selagi asik membaca, tiba-tiba bis berhenti, di pinggiran jalan, yang kutahu itu di Binjai। Seorang perempuan muda dan cantik, naik dan kemudian mencari tempat duduk, persis di sebelahku. Hanya dengan menyebut hai, dia langsung duduk.
“Aku Linda,” dia menyodorkan tangan pertanda minta salaman. “Panggil aku Linda.” Aku pun refleks menyambut tangannya, dan menyebut namaku, nyaris berbisik. Aku agak segan membuka mulut terlalu lebar, takut mulutku tak wangi.
“Siapa?” tanyanya lagi.
“Jeka,” sebutku dengan melepas tangannya. “Panggil aku Jeka,” ulangku lagi, menirukan gayanya memperkenalkan diri.

Aku merapikan duduk, sembari melanjutkan membaca. Tetapi Linda kayanya ingin mengobrol. Maka kuletakkan bukunya, dan kami pun mengobrol. Malam terus berpacu seiring bis yang terus melewati kota demi kota, membawa kami ke Banda.

***

Linda, menurutku tipe gadis belia yang cantik juga suka bicara. Bahkan ia suka blablakan dan tidak berhenti ngomong hampir sepanjang perjalanan. Kadang kusuka informasi yang disampaikan, tetapi banyak juga yang aku tidak suka, karena informasi itu tidak aku butuhkan.

Menurut pengakuannya, lahir dari perkawinan campuran yang ibu sunda dan ayah Aceh. Ibunya seorang dokter. Ayahnya seorang seorang insinyur, dan manager sebuah perusahaan perkebunan negara di Binjai. Linda, selama sepuluh tahun terakhir tinggal di kota kebun itu.
“Aku baru saja lulus seleksi masuk Unsyiah,” ujar Linda. “Dan aku menyukainya, karena diterima di Fakultas Hukum,” timpalnya.
Begitu ia menyebut nama fakultas itu, jantungku berdesir.
“Ah masa? Benar? Kamu diterima di Fakultas Hukum???” aku bertanya dengan nada heran.
“Iya, kok gak percaya sih?”
“Percaya, percaya.”
“Tahu gak bang, aku suka sekali. Karena itu adalah pilihan pertama. Kenapa abang jadi heran? Apa aku tidak pantas?” ia balik bertanya.
“O tidak. Kamu sangat pantas. Tampilan, gaya bicara dan rasa percaya dirimu, kamu memang pantas jadi mahasiswa fakultas hukum,” ujarku seperti menebar pujian. Ia tersenyum malu, mendengar ucapanku.
“Lalu kenapa Bang Jeka heran?”
“Gak heran kok. Aku juga mahasiswa fakultas yang sama. Tetapi aku sudah mau selesai,” ujarku.
“Loh kenapa abang gak bilang?”
“Tadi mau kusampaikan, tapi kukira belum perlu. Lagi pula, aku lebih suka mendengar kamu ngomong, daripada bicara,” timpalku.

Linda pun tersipu. Ia mulai coleteh lagi, soal kebanggaannya diterima di Fakultas Hukum. Karena menurutnya, itu sarana yang sesuai sekali untuk menjembatani cita-citanya yang ingin menjadi pengacara yang akan membela hak-hak perempuan dan anak.
Aku tersenyum. Senyumku sedikit getir. Dalam hatiku, biasalah, mahasiswa baru.
“Gimana caranya kamu membela?” Celutukku.
“Ya, dengan belajar serius dan jadi pengacara dong bang,” jawabnya serius. “Aku ingin memperjuangkan hak-hak mereka yang teraniaya.”

Aku mengangguk setuju. Kulihat gairahnya. Semangatnya. Idealismenya. Aku lihat bakatnya. Diam-diam kuperhatikan pula, detail kecantikannya. Rambut sebahu, wajah oval, dengan mata yang indah.
“Kudoakan kamu berhasil melewati semuanya. Kudoakan kamu jadi yang kamu inginkan,” ujarku.
Kami kemudian diam. Hanya suara nafas masing-masing terdengar lembut, beriringan suara mesin bis Pelangi yang tidak berhenti menembus malam.

***

Linda menepuk pundakku, memanggil-manggil berkali-kali, mencoba membangunkanku yang tertidur seperti kerbau pingsan. Tetapi aku tetap tak bergeming.
“Pap bangun. Sudah pagi. Papa kan sidang hari ini?” Linda, mengingatkan. “Ohya, kok papa lupa ya?” aku tergopoh dan meraih jam di meja rias kamar. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul enam kurang seperampat.
“Udah mandi sana, jangan lupa shalat dan berdoa loh, biar berkah.”
Aku bergegas mandi. Dan tentunya aku wudhu’ dan shalat. Selesai shalat, kulihat sepasang jas, kemaja putih dan dasi warna kuning sudah terletak rapi di atas tempat tidur.
Linda masuk kamar, dan menyodorkan sepatu dan kaos kaki.
“Nih, udah mama bersihkan,” sambil ia merapikan dasiku. “Tuh mama juga sudah siapkan sarapan dan kopi. Tapi papa janji kan, tidak banyak merokok?”

Aku meninggalkan kamar, dan tak memperhatikannya lagi. Sarapan dan kopi yang disiapkan istriku, lebih menggoda daripada duduk di dipan dan memperhatikannya berdandan. Lama dan tentunya tidak menarik ditonton.

Selesai sarapan, aku keluar ke teras belakang dekat kolam renang. Aku menikmati kopi yang disediakan istriku, sembari menghabiskan beberapa batang rokok dan baca koran.
Linda yang sepuluh tahun lalu bangga diterima menjadi mahasiswa hukum, kini berhasil menjadi pengacara sesuai yang diinginkannya. Ia menjadi asociates di kantorku.

Tetapi aku tentunya lebih bangga karena lebih berhasil. Berhasil memberikan semangat untuk keberhasilannya, dan berhasil memikatnya menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku.
Kunci keberhasilan dari keluarga kami adalah, positif thinking, saling percaya dan saling mengalah. Kami tidak mau menegakkan benang basah. Kalau tidak aku pun tidak sanggup membayangkan, rumah pasti akan jadi arena debat yang lebih seru seperti di ruang sidang pengadilan.***

--Banda Aceh, 11 Maret 1996—

Rabu, 17 Desember 2008

Lelaki yang Ditelan Gerimis

Cerpen: Mustafa Ismail 

[ ... ini cerpen lama saya, pernah dimuat di Kompas, Minggu, 08 Februari 2004 ... ]


KAMI bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Sejenak aku sempat terperangah dengan kehadirannya. Aku hampir tidak mengenalnya jika ia tidak menyebut namanya sendiri, sambil bertanya kepadaku dalam logat Aceh yang kental, "Kau masih ingat kan?"

Jelas saja aku masih ingat Suman, teman baikku ketika di pesantren dulu. Kami satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah. Beberapa kali Teungku Ubit, guru ngaji kami, memergoki kami keluar dan esoknya kami kena hukuman dipukul telapak tangan dengan sapu lidi. 

Perihnya luar biasa. Bekas merahnya seminggu baru hilang. Tetapi hukuman itu tidak bisa dielakkan. Bukan hanya kami, sejumlah kawan lain yang kepergok menonton televisi sehabis mengaji juga dihukum. Di dayah kami memang ada aturan tidak boleh menonton televisi.

Alasannya, televisi banyak menyiarkan sesuatu yang tak bagus untuk dilihat mata. Misalnya, perempuan yang tidak menutup aurat, bahkan mengumbar aurat, tari-tarian atau lagu-lagu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan di dayah. Siapa pun yang melanggar peraturan itu, tanggung sendiri akibatnya.

Banyak santri memang patuh. Tetapi ada sebagian yang bandel, mencuri-curi untuk bisa keluar dari kompleks dayah demi menonton televisi. Di antara sebagian itu, ya kami, aku dan Suman. Nyaris setiap malam kami keluar lewat jendela belakang bilik dan mengendap- endap keluar melalui pintu samping tempat wudu.

Kami sengaja memilih pintu samping tempat wudu, sebab kalau kepergok sama teungku, tidak sulit mencari alasan. Kami langsung bilang: mau shalat sunat, atau berwudu untuk mengaji, dan macam-macamlah. Yang sulit kalau kepergok ketika sudah berada di luar kompleks.

Itu cerita ketika kami di pesantren. Lulus SMP, aku tidak lagi mondok di situ dan melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Suman melanjutkan sekolah di kampung dan tetap mondok. Ia sekolah sambil tetap bisa mondok. Antara sekolah dan dayah pesantren memang lembaga terpisah.

Maklum, tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya. Yang ada cuma mengaji, baik mengaji Al Quran, maupun kitab-kitab klasik. Ketika era aku mondok dulu, tahun 1980-an, memang dapat dihitung dengan jari ada pondok pesantren modern, yang menggabungkan pesantren dan sekolah.

Sejak sekolah di Banda Aceh, aku masih suka ketemu sesekali kalau pas liburan dan pulang ke kampung. Suman telah menjadi asisten teungku yang mengajar anak-anak di bawah usianya. Penampilannya pun jadi berbeda. Ia menjadi lebih alim. Kemana-mana pakai peci dan bersarung. Orang-orang pun menyebutnya teungku.

Ketika aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh. Sambil kuliah, ia tetap mondok di pesantren di pinggiran Kota Banda Aceh. Di sana, ia juga menjadi asisten teungku dayah, mengajar ngaji untuk santri di bawah usianya.

Selanjutnya, aku tidak tahu lagi tentang dia. Betul-betul putus kontak. Baru kali inilah kami bertemu kembali. Cukup lama sekali kami terpisah. Tak salah kalau aku sempat pangling ketika ia mendekatiku dan menyorong tangannya untuk berjabat tangan denganku.

Suman sudah sangat jauh berubah. Dulu badannya ceking, seperti tiang listrik kata teman-teman, sekarang padat berisi. Air mukanya serius, namun tetap memancarkan kesejukan. Beberapa helai jenggotnya dibiarkan memanjang. Kalau dulu ia suka memanjangkan rambut, sekarang tidak. Ia lebih rapi kini.

"Bagaimana bisa kau ada di sini," tanyanya setelah ia menarik kursi dan duduk menghadap ke arahku. "Kudengar kau sudah jadi pengacara hebat di Jakarta," ujarnya lagi.

"Enggak juga. Aku masih bekerja di kantor pengacara orang. Berarti itu belum hebat. Pengacara hebat tentulah sudah punya kantor firma hukum sendiri," kataku. "Omongomong apa kegiatanmu sekarang?"

Pembicaraan kami terhenti ketika penjual makanan datang membawa secangkir kopi panas dan menaruh di depannya.

"Setelah lulus kuliah, di samping tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku ingin berbuat sesuatu yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini tertindas."

"Oh ya? Tapi tidak pernah kudengar namamu ditulis koran- koran."

"Aku bukan selebriti dan tidak hendak menjadi selebriti. Aku bekerja di bawah, menggali masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan mencoba mengatasinya. Misalnya kalau mereka mengungsi, kami mengupayakan anak-anak mereka tetap bisa sekolah dengan mendirikan tenda sekolah darurat. Atau kalau ada orang yang menjadi korban kekerasan, kami membantu mereka untuk memulihkan trauma atau membantu mereka melaporkan kepada Komnas HAM. Hanya pekerjaan-pekerjaan seperti itu yang bisa kami lakukan."

"Tetapi itu sangat penting."

"Memang penting. Aku sangat senang menjalaninya. Jadi aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar seperti dilakukan teman-teman lain sehingga mereka bisa terkenal dan namanya kerap dikutip oleh koran atau teve. Kami melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Apalagi, dana dari founding kami pas-pasan. Aku tidak pandai bicara, jadi tidak bisa meyakinkan founding untuk mengucurkan dana besar."

"Itu memang soal pilihan. Sebagai teman, aku sangat mendukung pilihanmu. Meski apa yang kalian lakukan kecil, cukup berarti dan dirasakan langsung manfaatnya oleh orang yang memerlukan. Tetapi, omong-omong bagaimana kabar teman-teman baik kita dulu?"

"Wah, mereka tersebar di mana-mana. Si Amat menjadi dosen dan hidupnya masih tetap sederhana. Maun kini menjadi anggota DPRD dan sudah kaya dia. Mobilnya aja dua, punya rumah yang cukup besar di pusat kota. Kalau Yahya kau pasti sudah tahu, setelah menjadi aktivis, dia menjadi tokoh dan selebriti. Bolak-balik ke Jakarta dan luar negeri. Hidupnya kini juga sangat makmur."

"Luar biasa memang kawan-kawan kita. Aku senang mendengarnya. Mereka menjadi orang sukses."

"Ya, mereka menjadi orang sukses. Tetapi rakyat di sekeliling mereka menderita."

"Maksudmu?"

"Ah, kau kayak tak tahu saja."

"Ali bagaimana kabarnya?" Ali yang kumaksud adalah teman sekelas kami dulu di SMP.

"Dia membantuku mengabdi pada masyarakat. Dia kerap tinggal bersama pengungsi untuk mengurus keperluan mereka di pengungsian."

"Sekarang dia di kampung?"

Suman tidak menjawab. Ia diam dan menerawang. Lalu matanya berkedap-kedip dan ia menggigit bibir.

"Ada apa?" tanyaku.

"Ali."

"Kenapa Ali?"

"Dia mati tertembak sebulan lalu."

"Tertembak?"

Aku terdiam mendengarnya. Tak bertanya lagi mengapa Ali tertembak. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Aku tahu benar Ali. Dia orangnya alim dan pendiam, juga tidak banyak ini-itu. Dia lurus-lurus saja. Ali orang baik. Mengapa ia harus mati di ujung senjata?

"Hidup memang begitu rahasia. Hanya Tuhan yang tahu hidup dan kematian seseorang," kataku.

"Tetapi di Aceh berbeda. Hidup dan kematian juga ditentukan oleh orang-orang yang punya kuasa dan senjata."

Aku tidak menanggapi. Diam. Lama kami terdiam. Sunyi.

"Apa kabar kampung kita?" tanyaku kemudian.

"Aku sudah dua bulan tidak pulang kampung."

"Mengapa?"

"Tidak bisa pulang. Kau sendiri belum sampai ke kampung?"

"Belum. Aku baru tiba tadi siang dari Jakarta. Malam ini aku ingin menikmati Kota Banda Aceh dulu. Ingin nostalgia. Besok aku baru pulang?"

"Kalau begitu, aku titip surat untuk ayahku ya?"

"Boleh. Boleh."

"Tunggu sebentar," katanya sambil bangkit dan berjalan meninggalkanku.

Udara malam makin menyengat mengirim gigil sampai sumsum. Meski telah mengenakan jaket yang agak tebal, hawa dingin tetap menusuk. Hujanlah yang membuat Kota Banda Aceh diselimuti dingin yang tak biasa ini. Aku baru merasakan dingin sedingin ini ya kali ini. Saat pulang dua tahun lalu, suasananya biasa-biasa saja.

"Ini suratnya," kata Suman sambil menyerahkan kepadaku sebuah amplop putih polos yang telah direkatkan. Aku sempat kaget juga, tiba-tiba saja ia sudah berada kembali di depanku, entah dari mana ia muncul.

Aku mengambil surat itu, melipatnya dan memasukkan ke kantong baju.

"Omong-omong bagaimana keadaan pesantren kita sekarang?"

"Sudah tidak seramai dulu. Santrinya tinggal sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi santri. Santri dari luar daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing ini, mereka tidak berani keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota sekalian, misalnya ke Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta."

"Teungku Ubit bagaimana kabarnya?"

Kembali ia terdiam. Matanya kembali menerawang. Ia menarik napas pelan-pelan dan mengembuskannya perlahan. "Nasib Teungku Ubit juga menyedihkan. Ia mati di ujung senjata beberapa bulan lalu," katanya pelan.

Kembali aku tersentak. "Mengapa?"

"Entahlah," Suman menggeleng.

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Suasana memang begitu menyakitkan, begitu menyedihkan.

"Omong-omong ada acara apa kau pulang?" Suman lalu bersuara.

"Aku mau menjemput orangtuaku dan membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak suara dar-der-dor. Mengerikan. Aku tidak tenang kalau mereka tetap berada di kampung. Kepikiran terus."

"Iya, memang pilihan tepat. Banyak orang yang punya anak atau familinya di Medan, Jakarta, atau di mana, meninggalkan kampung. Mereka tak kuat hidup di kampung. Tetapi yang paling kasihan orang- orang yang tidak punya siapa-siapa di luar Aceh, mereka tidak tahu harus ke mana."

"Kau sendiri kenapa tidak mengajak orangtuamu tinggal di Banda Aceh? Kan di sini relatif lebih tenang."

"Orangtuaku mana mau diajak meninggalkan kampung. Meski tak nyaman dan selalu dicekam ketakutan, mereka lebih senang berada di sana."

"Ya, memang soal pilihan. Tetapi mudah-mudahan orangtuaku tidak menolak."

"Mudah-mudahan."

"Kalau begitu, aku balik dulu ya," katanya sambil menyodorkan tangan kepadaku untuk berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Kami berjabat tangan, setelah itu dia melangkah meninggalkan taman Rex. Tetapi, baru saja ia keluar dari komplek taman Rex, gerimis tiba-tiba mengepung. Kulihat dia tidak berhenti dan berbalik untuk berteduh, tetapi terus berjalan sampai hilang di belokan jalan. Gerimis seperti menelannya.

Tak lama, gerimis pun berubah menjadi hujan besar. Lebih dari setengah jam baru hujan itu reda. Setelah reda benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh dari situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku yakin bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi warga kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari.

Masuk kamar, aku langsung ganti pakaian dengan baju tidur. Untuk mempercepat tidur, aku menyambar koran pagi yang tergeletak di tas meja. Aku hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman, sambil membaca judul-judulnya saja. Menjelang halaman terakhir, mataku tertumbuk pada sebuah berita kecil di sudut paling bawah.

Judulnya membikin jantungku berdebar kencang. "Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah Sawah". Aku meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman dimaksud bukanlah kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi harapanku sia-sia. Dari semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.

Ia mati dengan tiga lubang peluru tubuhnya. (*)

Note: karya-karya Mustafa Ismail juga dapat dibaca di http://www.jalansetapak.com dan
http://musismail.blogspot.com


Senin, 15 Desember 2008

Perempuan Nelangsa dalam Cerpen Happy Salma


Asep Sambodja
KOMPAS.com | 9 September 2008

Pada mulanya adalah kecurigaan. Kita dapat saja curiga kenapa Happy Salma menulis karya sastra. Kenapa Happy Salma menulis cerpen dan sudah pula diterbitkan dalam kumpulan cerpen Pulang (Depok: Koekoesan, 2006)?

Kalau kita mengutip Ignas Kleden, setidaknya ada tiga kegelisahan yang menyebabkan seseorang menulis, yakni kegelisahan eksistensial, kegelisahan politik, dan kegelisahan metafisik. Yang menjadi persoalan kemudian adalah kegelisahan macam apa yang melatarbelakangi Happy Salma ketika menulis cerpen?

Sebagai seorang artis sinetron dan bintang iklan, Happy Salma tidak perlu lagi mencemaskan persoalan eksistensial karena ia sudah eksis di bidangnya. Namun, sebagaimana Rieke Diah Pitaloka—artis yang juga menghasilkan karya sastra berupa puisi dan berpolitik praktis—Happy Salma tampaknya merasa tidak cukup puas dengan gemerlapan di dunia selebritis. Ia ingin lebih dari sekadar terkenal sebagai artis dan bintang iklan, ingin lebih dari sekadar meraih uang dalam jumlah besar, dengan menulis karya sastra, dalam hal ini cerpen.

Karena apa? Kita tahu bahwa sastra sebagai karya seni berpotensi menyimpan sekaligus merekam pikiran dan perasaan kita lebih lama dan “abadi”. Dengan menuangkan gagasannya melalui karya sastra, kita sebagai pembaca tidak saja menikmati cerita Happy Salma, tetapi juga menangkap pesan yang hendak disampaikannya. Bisa jadi melalui media sastra ini, Happy Salma lebih leluasa menyampaikan dan mengekspresikan gagasannya.

Kumpulan cerpen Pulang karya Happy Salma ini sebagian besar berbicara tentang pulang; yang berarti kembali ke rumah, kembali ke kampung halaman, kembali ke orangtua, kembali ke alam baka, atau yang dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, manusia berakal yang mencoba mencari asal-muasalnya dan pencarian tujuan bagi segala yang diciptakan di muka bumi. Dalam cerpen-cerpen Happy Salma, Pulang juga bisa berarti meninggalkan tindakan buruk (Pada Sebuah Pementasan), kematian (Adik), atau juga firasat buruk yang dirasakan ibu terhadap anaknya yang tak pernah memberi kabar meskipun terus mengirim uang dari perantauan (Pertemuan).

Ada tiga cerpen dalam kumpulan buku ini yang memperlihatkan Happy Salma serius menghasilkan karya sastra, yakni cerpen Pulang, Pertemuan, dan Ibu dan Anak Perempuannya. Saya katakan serius karena Happy Salma tidak sekadar menghibur, tapi juga bersuara, yakni menyuarakan jeritan perempuan yang nelangsa, perempuan yang sengsara. Dengan demikian, cerpen Happy Salma memenuhi fungsi karya sastra yang disebut Horatius sebagai dulce et utile (menghibur dan bermanfaat).

Dalam cerpen Pulang, Happy Salma memperlihatkan seorang perempuan yang memberontak terhadap kekangan budaya patriarki. Semakin keras kekangan itu atau semakin besar represi yang dilakukan oleh orangtua, semakin besar pula resistensi yang dilakukan seorang anak terhadap orangtua.

Dalam cerpen tersebut, sang bapak melarang anaknya berhubungan dengan lelaki yang berbeda agama atau keyakinan. “Nar, kita orang Sunda, orang Sunda tidak ada yang memiliki dua keyakinan dalam satu rumah, apa pun alasannya,” suara Bapak berubah parau (halaman 94).

Sang Bapak sangat yakin anaknya dapat mengerti dan memahami pernyataannya. Namun, tanpa sepengetahuan sang bapak, sang anak sebenarnya sangat membencinya, karena hubungannya dengan lelaki beda agama itu sudah demikian jauh, karena ia sudah tidak perawan lagi. Tapi, bukan soal tidak perawan itu yang menggelisahkannya, melainkan kepergian sang kekasih setelah tidak mendapat restu dari orangtua. Meskipun demikian, perlawanan yang dilakukan sang anak hanyalah perlawanan dalam kepatuhan.

Hal ini dapat terbaca di akhir cerita. Aku masuk ke dalam rumah, kutatap wajah Bapak yang sedang duduk bersila di hamparan sajadah menanti maghrib tiba. Semakin tua, semakin sering dia berdoa. Kelu kucium tangannya. Tanpa kata aku pergi, tanpa ingin kembali ke rumah ini, sampai aku tahu apa yang kumau. Tak apalah aku dibilang egois, sekali-kali (halaman 97). Ia membenci bapaknya, tapi ia masih menghormatinya.

Perempuan yang nelangsa juga tergambar dalam cerpen Happy Salma yang lain, Ibu dan Anak Perempuannya. Dalam cerpen ini, Happy Salma menggunakan metafor yang menarik, “Waduh, halaman rumah harus dirapikan. Walaupun tanaman tropis berwajah hijau dan segar, tapi kalau tidak ditata, ternyata bisa menyesakkan juga. Jadi, penghuni rumah yang sedang sakit pun tercermin.” (halaman 29). Kalimat simbolik itu merujuk pada sang ibu yang memang benar-benar sakit parah dan hanya tergolek lemah di ranjang, karena mengidap sakit gula, sekaligus merujuk seorang anak perempuan, Arum, yang “sakit” karena harus melayani laki-laki hidung belang setiap hari.

Perempuan nelangsa di sini adalah sang ibu yang ditinggal pergi suami dan anaknya sekaligus. Suaminya menikah dengan gadis seusia anaknya dan tega meninggalkan istrinya nelangsa. Sementara anak perempuannya, Arum, kawin lari dengan laki-laki yang sudah beristri, namun kemudian ditelantarkan. Sejak itu dan karena itu pulalah Arum hidup dari satu laki-laki ke laki-laki lain karena hanya dengan cara dan jalan seperti itulah Arum dapat menjaga ibunya untuk terus berobat guna menghadapi penyakit gula yang mematikan dan membutuhkan biaya selangit itu.

Dalam cerpen Pertemuan, Happy Salma berhasil bertutur dengan halus sehingga pembaca dikejutkan di akhir cerita. Cantik, perempuan itu, diperintahkan ibunya untuk mencari kakaknya yang tidak pernah berkabar lagi. Dengan perasaan terpaksa, Cantik mencari kakaknya, Bang Jul, yang diketahui tinggal di Depok. Ternyata, pertemuan itu sangat mengejutkan karena kakaknya yang dulu pernah bekerja sebagai office boy di sebuah supermarket, kini menjelma menjadi waria atau banci yang cantik. Yang lebih mengejutkan lagi, dari kamar kakaknya itu keluar seorang laki-laki bule berbadan tegap. Cantik lemas, Cantik terluka, tak mampu berkata apa-apa selain menyampaikan pesan dari ibunya agar kakaknya segera pulang meskipun ia sendiri tak berharap kakaknya yang telah berganti kelamin itu pulang.

Ibu, perempuan, yang muncul dalam cerpen Happy Salma adalah sosok perempuan yang nelangsa. Perempuan yang sakit. Sakit karena suaminya kawin lagi. Sakit karena anaknya kawin lari dengan laki-laki beristri dan kemudian menjadi pelacur. Sakit karena anak laki-lakinya menjelma banci yang cantik dan menjual diri. Sakit karena dilarang kawin dengan laki-laki pilihannya sendiri meskipun berbeda agama. Sakit karena tak dapat menghilangkan pusaka dari dirinya sehingga harus bersetubuh dengan siluman (Umi).

Happy Salma berhasil menyuguhkan sebuah karya sastra yang tidak saja memikat, tapi juga mencerahkan. Bahwa masih ada persoalan perempuan yang perlu disuarakan secara terus-menerus dari hati yang paling dalam, dan masih banyak pula permasalahan yang perlu diperbaiki. Karena, “Aku sadar, aku pun bukan aku yang dulu. Waktu telah mengubahnya, ia telah mengubah segalanya.” (halaman 92). Cerpen-cerpen yang terhimpun dalam Pulang menjadi alasan kuat kenapa kita harus menyambutnya dalam khazanah sastra Indonesia. ***

http://kompas.co.id/read/xml/2008/09/09/23482695/perempuan.nelangsa.dalam.cerpen.happy.salma.

Jumat, 12 September 2008

HUJAN PERTAMA*




>>> AZHARI


Sudah tiga sore ibu memandang ke timur. Memacakan pandang ke dinding gunung. Seperti bersiap menelannya.
Aku ingat begitulah kebiasaan ibu dulu menanti kepulangan mendiang bapak setelah empat-tiga hari berada di pasar. Padahal pasar yang jaraknya 135 Km dari kampung tidaklah berada di sebalik gunung itu, tapi di barat. Kata ibu gunung yang biru legam itu memberikan ketentraman tatkala menunggu.

Kalau sudah begitu ibu akan berlama-lama berdiri seraya tangannya tak lepas-lepas menyumpal tembakau di sela-sela gusinya sambil sekali-kali memuntahkan ludahnya ke tanah. Dia melakukannya dengan betah dari ashar sampai magrib. Dan dia dengan tekun akan menuturkan perihal; gerak awan, wangi angin, uap mentari, kenisbiaan cuaca, suara-suara yang digemakan oleh burung-burung, kepada kami yang setia menemaninya. Ibu menyebutnya sebagai penanda.

Ibu sedang memperkirakan hujan pertama musim ini turun.
"Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu," tunjuk ibu, kami semua menengadah mengikuti telunjuk ibu, "di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing berbalik jarum jam menuju laut. Dan hiruplah bau angin yang seharum kulit sagu yang mengantar awan itu. Sebentar lagi kalian juga akan menyaksikan sekawanan burung hujan akan memotong dari utara menuju selatan. Mereka akan merontokan bulu-bulunya. Itu tandanya musim kawin hampir tiba. Aha, mana si Tanyak," ibu terkekeh lama sekali sambil menghapus airmatanya yang ikut keluar, matanya mencari-cari Apa Tanyak, tetangga kami yang masih berfamili dengan ibu, "aku menyarankannya mencari jejatuhan bulu-bulu burung hujan itu agar jodohnya dimudahkan." Kami semua tertawa mendengar gurau ibu.

"Maka aku yakin empat belas hari bulan, dan itu dua hari lagi, hujan akan turun dari pukul tujuh pagi sampai habis ashar. Berhenti hingga magrib. Dari isya hujan akan terus turun lagi sampai bang subuh pertama. Begitulah seterusnya selama satu Jum'at lamanya. Paloh sudah kau tambal atap kandang kambing, hah?. Dan aku berharap kalian semuanya mengasah cangkul, menyiapkan kerbau-kerbau kita, pun kuk jangan sampai lupa. Kita bersiap turun ke sawah."

"Tapi tadi hampir subuh aku mendengar kulik elang, menyayat sekali! Apakah itu artinya suami Ernawati bakal ditemukan?" aku menyela.

"Tidak Paloh. Tak ada hubungannya. Aku juga mendengarkannya. Itu kematian dari jauh – entah siapa?. Tak sampai ke sini. Percayalah!" Ibu berusaha meyakinkan.

Aku percaya. Kemahiran ibu dalam melihat tanda-tanda langit, seperti memperkirakan musim, atau meruwat kapan kepastian puasa pertama atau hari raya sangat membantu penduduk kampung yang masih memegang kuat tanda-tanda alam sebagai penunjuk. Padahal almanak, jam dinding terpacak di setiap dinding rumah mereka. Ibu tak hanya pandai dalam hal membaca tanda-tanda, tapi dia juga memiliki keistimewaan kecil lainnya seperti; mengurut, membantu persalinan, memandikan jenazah, bahkan menyembelih ayam. Kepandaiannya tersebut telah mendudukan ibu di struktur tuha peut di kemukiman kami, sebagai ahli falak yang menyampaikan tanda baik-buruk, boleh-tidaknya susuatu dilakukan.

Begitu gembiranya ibu sore ini. Aku seperti melihat keriangan yang sama, apabila bulan di langit semakin mengecil yang menandakan bahwa bulan Syaqban akan segera berlalu, dan bulan Ramadhan segera tiba. Kegembiraan itu ditunjukan ibu dengan senandung kecil yang kata-katanya dapat diartikan sebagai ucapan terima kasih kepada yang kuasa.

"Hayo kalian semua masuk ke rumah. Aku tak lagi mencium bau kulit sagu. Angin berubah aroma setengik pelitur. Dan itu mendatangkan penyakit."
Tak lama kemudian terdengar azan magrib.
Aku masih sempat melihat sekawanan burung hujan memotong utara menuju selatan dan merontokkan bulu-bulunya.

Aku menahan nafas, ada banyak harapan dari hujan pertama musim ini.
Tapi aku tak sepenuhnya yakin. Bukan karena hujan pertama tak akan mengucur seperti perkiraan ibu. Ibu selalu tepat. Sudah dua musim sawah-sawah kami yang luas itu terendam air, tapi kami juga tak dapat ke sawah. Karena perang dua musim antara Orang Gunung dan Tentara Pemerintah telah membuat sawah yang terendam yang mestinya dicangkul, ditaburi benih tak ada artinya. Ibu melarang kami turun ke sawah - takut terjadi apa-apa dengan anaknya. Seperti Utoh Daham yang tertembak musim lalu tatkala menutup pintu air sawahnya. Seperti Nen yang diciduk tepat di tengah sawah dikira sebagai mata-mata musuh. Ada banyak peristiwa yang telah membuat orang kampung kecut untuk mengerjakan sawahnya, ladangnya, atau melepas ternak-ternaknya.

Tapi musim ini perang sepertinya agak mereda. Kontak tembak sudah jarang terdengar. Truk tentara hanya sekali-kali melintas di jalan-jalan kampung. Orang Gunung juga sudah tak lagi membuat ceramah di balai-balai. Dan aku mendengarkan dari ibu yang mendapat kabar dari Ulee Mukim mereka yang berperang terikat janji untuk tak saling menyerang. Dan orang kampung mempercayainya. Mereka percaya kuasa doa.
"Mereka telah teken untuk tak saling menyerang."
"Sampai kapan bu?" tanya Bang Husein
"Enam bulan. Ada kesempatan buat panen. Setelahnya kita siapkan perkawinan kau!"
Kami semua senang mendengarnya.

Dua musim tak turun ke sawah, meski air meruah dan sawah-sawah menjadi danau besar, telah membuatku dan Pii, adikku, tak lagi memikirkan sekolah, Abang Husein pun sudah bermalu muka dengan pihak keluarga calon istrinya karena tak sanggup menunaikan mahar yang cuma beberapa manyam itu - padahal empat-lima dari berupuluh-puluh lubang sawah yang kami punya lebih dari cukup untuk sekadar membayar mahar sekaligus menyiapkan perkawinan, bahkan sampai ke acara antar-mengantar tujuh isi talam kalau-kalau kelak calon istrinya mengandung. Selebihnya utang ibu yang kian menumpuk.

"Dan aku dan Pii bisa melanjutkan sekolah bu?"
Ibu mengangguk. Aku dan Pii mengadu telapak tangan.
Ada banyak hal yang terencanakan dari panen sawah kami kelak yang membentang hampir 50 hektar. Selain buat sekolah aku dan Pii, dan perkawinan Bang Husein, yang terpenting adalah membayar utang-utang yang ditinggalkan almarhum bapak. Sebagai pedagang bapak meninggalkan utang yang tak sedikit empat tahun silam. Kami sekeluarga berhasrat melunaskannya awal-awal sejak bapak meninggal, tapi empat tahun belakang ada banyak hal yang terjadi. Dua musim kemarau ditambah dua musim perang membuat kami harus menunda segalanya. Menjual sawah, ladang, kerbau pun tak ada gunanya. Tak ada orang gila yang mau membelinya!

Seperti halnya kami yang menyimpan harapan besar dari hujan pertama musim ini, orang-orang kampung juga memendam hal yang sama. Masing-masing harapan tentunya mempunyai nilai yang sama, sebesar atau sekecil apapun harapan tersebut. Meski mereka cuma punya sepetak lubang untuk menanam dan berharap dari panen musim ini dapat mengkhitan rasulkan anaknya, atau seperti Tunda Munah yang menyimpan harapan untuk dapat menjenguk kakak tirinya di panti jompo di ibu kota provinsi.

"Mak Husein beri aku selubang yang dekat dengan penggilingan agar aku tak susah-susah mengerjakannya. Rindu sekali aku dengan Kak Sabariah. Tujuh tahun aku sudah tak jumpa dengannya. Kau kan tahu sendiri Kak Sabariah suka sekali dengan beras baru, apalagi itu beras tumbukan. Aku akan menumbuknya sendiri barang beberapa are. Beberapa di antaranya aku berikan ke panitia zakat, sudah empat tahun badan ini tak pernah bersih tak pernah berzakat." Harap janda tua tanpa anak itu kepada ibu.
Kabar tentang hujan pertama yang bakal turun dua hari lagi telah menyebar secepat fitnah yang biasanya memenuhi mukim kami. Selepas berjamaah isya di meunasah tadi aku, Pii, dan Abang Husein menceritakannya kepada jamaah atas suruhan ibu. Mereka menyambutnya dengan gempita. Dan beramai-ramai ke rumah kami untuk memastikan kebenaran tersebut. Selebihnya adalah meminta kesedian ibu agar diberikan kesempatan buat me-mawah sawah kami yang tak terhingga jumlahnya, dengan mawah nantinya hasil panen dibagi dua. Setengah buat yang punya sawah, setengah buat yang mengerjakan. Ibu berjanji akan memberi ¾ sawahnya buat di-mawah, sedang sisanya akan dikerjakan sendiri. Di depan Keujreun Ubit, ibu mengikralkan perihal itu. Ibu juga menyatakan menyedekahkan selubang sawah buat Ernawati. Sawah yang diberikan ibu tidak besar memang, tapi itu telah membesarkan hatinya yang suaminya diculik sebulan lalu. Tapi tetap tak dapat menguburkan lara pengantin baru itu yang cuma baru mengecap beberapa malam masa bulan madunya.

“Apakah sawah itu boleh kupakai buat tebusan Pang Kadi?”
Ibu mengangguk. Semua geming mendengarnya.

Selain harapan aku melihat gairah yang menyala-nyala di mata mereka malam ini. Empat pelita yang terpasang di empat sudut rumah ditambah satu petromaks di tengah beranda yang dengan kuat memompakan api ditambah dengungnya seakan tak sanggup menyamai cahaya gairah yang dipancarkan mata-mata itu. Mata-mata yang dipenuhkan lelatu. Gairah untuk mencium kembali wangi lumpur, melepaskan kebekuan tulang-belulang, dan menyemburkan peluh setelah empat musim terpendam entah di mana.

"Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu," tunjuk ibu keesokan harinya kepada orang-orang kampung yang ingin menyaksikan tanda bahwa besok pagi hujan pertama musim ini bakal turun. Semua menengadah mengikuti telunjuk ibu. "Di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing persis jentera menuju laut. Dan hiruplah bau angin yang seharum kulit sagu yang mengantar awan itu. Sebentar lagi kalian juga akan menyaksikan sekawanan burung hujan akan memotong dari timur menuju barat. Dengan berahi mereka akan merontokan bulu-bulunya. Ikutilah gerak matahari yang lamat-lamat turun di lekung antara gunung. Lama sekali matahari akan bertahan di belahan itu. Matahari seperti tak ikhlas memberikan tugasnya kepada hujan.

Matahari akan menusukkan cahaya terakhir tembaganya yang seperti buraian sapu lidi pada daun-daun, batu-batu, pada bulu burung-burung hujan yang kemilau karenanya."
Maka aku yakin empat belas hari bulan, dan itu satu hari lagi, hujan akan turun dari pukul tujuh pagi sampai habis ashar. Berhenti hingga magrib. Dari isya hujan akan terus turun lagi sampai bang subuh pertama. Begitulah seterusnya selama satu Jum'at lamanya."

"Apakah kalian sudah menyiapkan benih, cangkul, tenggala, memberikan makan kerbau-kerbau kalian agar kuat, hah?"

Mereka mengangguk. Ada yang tersenyum. Ada desis syukur kepada Tuhan.
"Lihat!" Seru seseorang. Beberapa bulu burung hujan jatuh bergulung berkilauan ditikam sinar matahari.

Malamnya aku dan Pii mengikir cangkul, pun mata tenggala hampir subuh. Bang Husein semenjak lepas magrib ke rumah Keujreun Ubit bermufakat ihwal pengaturan air. Ibu tampak cemas, ia habis pulang memandikan jenazah Pang Kadi, suami Ernawati yang hilang sebulan lalu, senja tadi ditemukan tak bernyawa di pertikungan jalan kampung. Ibu tegak di tubir tingkap yang menghadap ke timur. Jemari lisutnya dengan gentar membetulkan letak tembakau di sela gusinya. Angin bergulung-gelung keras berdengung bagai amuk sejuta lebah. Mengangkut jutaan serbuk hujan yang bakal tumpah besok pukul tujuh pagi memenuhi sawah-sawah kami.

"Sebentar lagi akan terdengar kulik elang, mensyiarkan kematian Pang Kadi kepada seluruh kampung. Pukul setengah tujuh pagi akan gerimis sebentar. Itu isak tak ikhlas si Kadi. Air mata orang mati. Baru kemudian pukul tujuh, setengah jam kemudian, hujan yang sebenarnya turun. Hujan pertama musim ini. Dengarlah serbuk hujan mulai terpecah-belah. Dibantu kilat. Ditambah gemuruh. Hujan akan turun rapat-lebat. Memenuhi sawah-sawah kita dengan air. Tapi kita pantang menanami sawah yang sebelumnya sudah dibasahi air mata orang mati, Paloh!"

Ibu memandang terus ke timur. Menyugil-nyugil gusinya. Muara Duyung, 2002

*) Cerpen ini sudah pernah dimuat Koran Tempo. Ini merupakan naskah asli yang ditulis pada 26 Desember 2002, dan sepertinya belum selesai. Dokumen pribadi saya, kamal farza.

Catatan;
Tuha peut (Aceh); struktur pemerintah non-formal tingkat kampung di Aceh, yang terdiri atas empat tetua, yang dianggap bijak (wiseman)
Manyam (Aceh); satu manyam sama dengan 3 gram emas.
Are (aceh); takaran beras sama dengan satu bambu
Meunasah (Aceh); surau
Keujreun (Aceh); petugas yang mengatur pembagian air di sawah

Selasa, 29 Juli 2008

LANDARWATI


CERPEN J. KAMAL FARZA

 Ketika Salim pulang ke rumah kostnya, dia menemukan enam lembar sobekan kertas pesan dalam kotak surat dekat pintu kamar. Lelaki muda itu menaruhnya dimeja, Ia tidak membacanya lebih dahulu. Melainkan melangkah ke kamar belakang untuk membasuh mukanya yang kelihatan cukup penat.
 Lalu Salim meraih handuk yang tergantung di balik pintu kamar, melap muka dan tangannya. Ia menyalakan sebatang rokok, mengisapnya salam-dalam, dan membaringkan badannya di dipan kecil kamar kostnya. Baru kemudian memungut sobekan sobekan kertas yang tadinya ditelantarkan di meja.
 Kertas pertama ditulis Iwan, temannya yang berkacamata minus. ”kemana saja kau Gam, setiap aku datang kau ndak pernah ada. Datang ke rumah ya, aku punya koleksi terbaru karangan Srengenh,”: begitu tulis Iwan.
 Lelaki yang akhir-akhir ini sangat sibuk dengan tugas-tugas jurnalistik itu, tersenyum geli membaca tulisan Iwan. Lalu ia meraih sobekan kertas kedua, yang ditulis Salam adik bungsunya. :Bang, Salam pulang kampung. Percuma saja disini , abang ndak pernah dirumah. Oh ya , maaf, beberapa buku abang ku bawa pulang.”
 Salim mendesah berat. Ada penyesalan di wajahnya ketika membaca pesan adiknya. Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan adiknya semata wayang itu, yang datang mengunjunginya karena rasa kangen, justru disebabkan ia tidak lagi pernah pulang ke kampung dalam dua tahun terahkhir. Dan kedatangan Salam, tidak dilayani secara patut. Ia sebenarnya merasakan juga bahwa waktunya sangat banyak ia habiskan untuk kepentingan perkumpulan dan tugas-tugas sebagai jurnalis muda yang baru bekerja di sebuah pererbitan. Bahkan waktunya yang secara khusus sudah di diagendakan untuk kuliah dan istirahat pun dilahap dhabis oleh kesibukan-kesibukannya.
 Pesan ketiga sama sekali tidak menarik dibaca. Hanya tulisan cakar ayam yang ditulis Asep, teman selorohnya di gardu. ”Kawan , kau sombong sekarang., ndak pernah gabung lagi,” hanya begitu bunyi tulisan Asep yang amburadul dan lucu.
 Tetapi mata Salim agak mendelik ketika membaca sobekan kertas keempat. Ia kenal betul tulisan tangan dikertas itu, ditulis oleh seorang mahasiswi, yang selama ini telah mengisi hari-hari pentingnya selaku pejaka dan aktivis. Seorang kawan paling dekat yang banyak memberikan perhatian bagi aktivitas dan cita-citanya. Landarwati.
 ”Bang Agam, hari ini 17 Januari. Barangkali hari terahkhir Wati bisa datang ke tempatmu. Orangtuaku tidak lagi membiarkanku keluar rumahm, untuk jangka waktu yang tidak ditentukannya.
 ”Ada seorang lelaki beberapa hari lalu datang meminangku untuk jadi istrinya. Nampaknya ayah setuju, karena ayah menganggap lelaki itu sudah mapan dan cocok untukku. Sekarang mereka tinggal menunggu persetujuanku saja, sampai waktu tanggal 20 bulan ini.
 ”Aku ndak mau, Bang, kawin dengan lelaki itu. Meskipun ayah selalu membujuk bahwa lelaki itu adalah anak orang kaya dan terhormat. Abang harap datang ke rumah sebelum tanggal 20. Wati berharap, agar abang memberikan jalan terbaik bagi Wati dan dapat membatu mencegah rencana ayah ini, Adikmu, Landarwati.”
 Salim terperanjat dan tergopoh bangun dari pembaringan, Ia segera mengambil kalender yang tergantung di dinding hari ini sudah tanggal 23.
 ”Oh Tuhan, salahkah kesibukan yang kulakukan ini? Kesibukan yang telah membuatku banyak kehilangan orang-ornag yang mendorong ku untuk bisa seperti ini?”
 Pesan kelima dan keenam yang ditulis dua kawan nya Dinu dan Udin sama sekali tak menarik lagi perhatiannya. Pikirannya runyam, dan lemah.
***
Ketika Salim baru saja menyalakan rokoknya yang entah kebatangan keberapa, sekonyong konyong ia dikejutkan oleh ketukan pintu. Seorang lelaki kerempeng berperawakan kecil tegak didepannya , dan mengucapkan salam.
”Apakah anda yang bernama Salim alias Agam?” tanya lelaki muda yang kini sangat dekat berdiri di depannya.
”Benar anda siapa,”Salim menyodorkan tangan memperkenalkan diri.
”Aku Ajim, sepupunya Kak Wati,” lelaki itu juga menyodorkan tangan. Sebelum sempat dipersilakan masuk , lelaki yang mengaku bernama Ajim itu melanjutkan:
”Maaf Bang . saya buru-buru. Saya hanya ingin mengantarkan surat kak Wati untuk Anda. Posisinya kini betul-betul terjepit, dan saya berharap Anda dapat membantunya.”
”Dimana dia sekarang?” Salim bertanya gusar.
”Di rumah. Nanti malam dia akan dinikahkan.”
”Jadi, aku harus berbuat bagaimana?” Salim kembali bertanya. Ia gugup.
”Di surat semua dijelaskan. Bersiap-sipalah, apapun yang akan Anda lakukan untuknya, waktunya tinggal sedikit,” kata Ajim.
Salim mematung seperti patung. Ia tidak sadar , kalau orang yang didepannya sudah sangat jauh meninggalkannya.
***
 Pesta cukup meriah di rumah bercat putih di ujung jalan. Puluhan mobil diparkir berderet sepanjang jalan, persis barisan upacara. Sementara di halaman rumah, serombongan remaja sudah siap untuk menyambut datangnya sang pengantin laki-laki.
 Suasana rumah cukup hinggar-bingar . Sekelompok pemain musik keyboard tak henti-hentinya unjuk kebolehan membawakan lagu-lagu dangdut. Sementara agak jauh dari rumah itu sebuah taksi parkir ditempat yang agak gelap.
 Tiba-tiba suasana di rumah yang memang sudah gaduh oleh kemeriahan pesta, bertambah gaduh, karena tanpa diduga-duga lampu di rumah itu padam total. Entah salah siapa, lampu yang merupakan jaringan listrik milik PLN bisa mati. Entah sengaja , entah memang rusak.
 Tetapi setelah lima menit kemudian, lampu hidup kembali. Suasana kembali ceria. Musik dilanjutkan. Semua yang hadir dipesta, masing-masing berdoa sesuai keyakinan masing-masing, agar lampu tidak lagi padam. Merka berharap agar suasana bahagia ini bisa berjalan sukses.
 Namun kecerian yang sudah terlihat dimasing-masing wajah kembali kecut, ketika dari kamar pengantin para wanita memekik-mekik sembari mulut mereka mengucapkan yang Landarwati sudah tidak ada lagi. Inilah puncak kegaduhan pesta.
 ”Waduh, kemana?” Tanya Nyonya Rahmi sang ibu yang kebetulan tidak ikut merias pengantin .
 ”Entahlah. Yang pasti, jendela kamar agak sedikit renggang.” jawab Nyonya Musidah.
 ”Tolong cari,” pinta Pak Nurdin, ayahnya Wati dengan nafas tersengal-sengal orang tua ini berseru parau: ” Cepat cari, sepuluh menit lagi pengantin lakinya datang!”
 Tetapi tidak satu pun orang yang diperintahnya mengetahui dimana Landarwati berada. Berbagai spekulasi dan dugaan pun muncul, ada yang mengatakan Wati sengaja lari, ada yang menduga justru Wati dilarikan hantu. Bahkan ada juga yang mengira bahwa Wati dilarikan orang atau maling. Namun dugaan terakhir segera terbantah, karena Wati tidak menjerit pada saat lampu padam.
 ”Telpon polisi, minta bantuannya untuk mengusut kasus ini, jangan-jangan ada pihak yang sengaja mengacau.” perintah Pak Nurdin.
 Beberapa menit kemudian sepasukan plolisi meluncur ke tempat kejadian, seiring tibanya rombongan pengantin laki-laki.
 Pak Nurdin sibuk memberikan keterangan pada polisi, sampai-sampai ia lupa menyambut rombongan linto baro.
 Setelah semua duduk perkara dan identitas serta photo Landarwatri pun sudah berada ditangan polisi, mereka mulai melakukan pengejaran. Seluruh jalan di dalam kota diperintarkah blokir. Demikian pula jasa wartawan dan para normal pun dimanfaatkan keluarga Pak Nurdin. Tapi sayangnya, sampai tengah malam bahkan sampai pagi pun. Landarwati tetap belum diketermukan.
 Pagi besoknya, beberapa koran terbitan kota memberitakan peristiwa unik raibnya pengantin perempuan. Danb di halaman lain juga termuat sebuah iklan berita kehilangan. Siapa pun yang mengetahui dimana Landarwati berada, harap menghubungi keluarganya dengan alamat tertera. Hadiah akan sediakan espantasnya dan tidak akan dituntut
 Sayangnya Landarwati tetap tidak diketemukan. Bahkan hingga saat naskah ini ditulis Landarwati juga belum kembali. Semuanya jadi sibuk.
 Aku sebagai sahabatnya yang tau peristiwa itu terjadi, juga enggan menelepon Pak Nurdin, atau pun redaksi koran kota, meskipun diiming-imingi hadiah, keenggannanku beralasam, sebab, disamping hal ini menyangkut kawan dekatku juga aku sangat tidak suka bila dijadikan saksi dipengadilan, Dalam hati, aku berkomentar: Nekat juga si Salim itu... (Aceh 1995, revisi 1997).

Sabtu, 26 Juli 2008

Di Bilik

Sajak J Kamal Farza

di bilik rumah
kita bercumbu melakukan senggama

di bilik dapur
engkau merayuku menjanjikan indahnya cinta

di bilik hotel
engkau mendekapku, diantara mikrofon dan botol bir

di bilik ruang kerjamu kau suguhi permen,
kau katakan semua ini adalah sandiwara

di bilik jaket merah jambu
kau keluarkan pistol lalu menembak kepalaku

Banda Aceh, 2001

Source: http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&view=4.16.02-5.03.02

Cahaya-Mu

Sajak J. Kamal Farza

kusadari keagungan-Mu
yang menghembuskan angina-angin
membentangkan bumi, mengaliri sungai-sungai
sampai laut Engkau gelombangkan

sungguh kerdil aku dalam tatap-Mu
sehingga kucoba titipkan pengabdian
lewat perantara subuh atau isya
lewat tahajud, lewat dzikir
menyebut-Mu, tak pernah letih

o Yang Maha Rahman
curahkanlah cahaya dalam hidupku
dalam sarafku, dalam dagingku
dalam pengabdianku
agar tambah tegar
menikmati sisa-sia usiaku

ya Allah pijarkanlah cahaya-Mu
agar imanku tambah kokoh
menahan arus globalisasi ini

:Jangan panggil aku dulu, Tuhan
Sebelum pengabdian ini
Engkau restui

Banda Aceh, Desember 1991