
Cerpen J. Kamal Farza
Bis Pelangi pelan-pelan bergerak meninggalkan stasiun Gajahmada, seiring menghilangnya suara hiruk pikuk kondektur yang menata tempat duduk penumpang। Bis kemudian mengencang, dan sesekali melambat menyiasati jalanan yang padat.
Aku masih duduk sendirian. Duduk di sisi paling kanan ‘bis 21’ yang membawaku dari Medan ke Banda Aceh. Di sisi paling kiri kulihat seorang ibu, mungkin seumur 50an duduk di bangku tunggal. Dia sudah menarik selimut untuk menghindari dingin yang dipancarkan AC. Tarikan selimutnya beriringan pula dengan tarikan kantuknya yang kemudian membawanya tertidur.
Entah kenapa, kondektur membiarkan kursi di sampingku kosong. “Mungkin ada penumpang yang batal berangkat,” gumamku.
Untuk mengusir dingin dan kebosanan di perjalanan, aku raih jaket dan sebuah buku di ranselku. Kunyalakan lampu baca, dan mulai melanjutkan membaca, halaman bertanda novel Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol. Sebuah kisah yang menceritakan seorang pekerja seksual komersial, yang menggugat lembaga perkawinan sebagai lembaga yang dibangun di atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum perempuan. “Aku bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami aku, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur.”
Kemudian aku membaca hal 147: “....Mereka menghukum aku sampai mati bukan karena aku telah membunuh seorang lelaki – beribu-ribu orang yang di bunuh tiap hari—tetapi karena mereka takut untuk membiarkan aku hidup. Mereka tahu bahwa selama aku masih hidup mereka tidak akan aman, aku akan membunuh mereka. Hidup aku berarti kematian mereka, kematian aku berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, perampokan, perampasan. Aku telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena aku sudah tak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi takut mati.”...
Selagi asik membaca, tiba-tiba bis berhenti, di pinggiran jalan, yang kutahu itu di Binjai। Seorang perempuan muda dan cantik, naik dan kemudian mencari tempat duduk, persis di sebelahku. Hanya dengan menyebut hai, dia langsung duduk.
“Aku Linda,” dia menyodorkan tangan pertanda minta salaman. “Panggil aku Linda.” Aku pun refleks menyambut tangannya, dan menyebut namaku, nyaris berbisik. Aku agak segan membuka mulut terlalu lebar, takut mulutku tak wangi.
“Siapa?” tanyanya lagi.
“Jeka,” sebutku dengan melepas tangannya. “Panggil aku Jeka,” ulangku lagi, menirukan gayanya memperkenalkan diri.
Aku merapikan duduk, sembari melanjutkan membaca. Tetapi Linda kayanya ingin mengobrol. Maka kuletakkan bukunya, dan kami pun mengobrol. Malam terus berpacu seiring bis yang terus melewati kota demi kota, membawa kami ke Banda.
***
Linda, menurutku tipe gadis belia yang cantik juga suka bicara. Bahkan ia suka blablakan dan tidak berhenti ngomong hampir sepanjang perjalanan. Kadang kusuka informasi yang disampaikan, tetapi banyak juga yang aku tidak suka, karena informasi itu tidak aku butuhkan.
Menurut pengakuannya, lahir dari perkawinan campuran yang ibu sunda dan ayah Aceh. Ibunya seorang dokter. Ayahnya seorang seorang insinyur, dan manager sebuah perusahaan perkebunan negara di Binjai. Linda, selama sepuluh tahun terakhir tinggal di kota kebun itu.
“Aku baru saja lulus seleksi masuk Unsyiah,” ujar Linda. “Dan aku menyukainya, karena diterima di Fakultas Hukum,” timpalnya.
Begitu ia menyebut nama fakultas itu, jantungku berdesir.
“Ah masa? Benar? Kamu diterima di Fakultas Hukum???” aku bertanya dengan nada heran.
“Iya, kok gak percaya sih?”
“Percaya, percaya.”
“Tahu gak bang, aku suka sekali. Karena itu adalah pilihan pertama. Kenapa abang jadi heran? Apa aku tidak pantas?” ia balik bertanya.
“O tidak. Kamu sangat pantas. Tampilan, gaya bicara dan rasa percaya dirimu, kamu memang pantas jadi mahasiswa fakultas hukum,” ujarku seperti menebar pujian. Ia tersenyum malu, mendengar ucapanku.
“Lalu kenapa Bang Jeka heran?”
“Gak heran kok. Aku juga mahasiswa fakultas yang sama. Tetapi aku sudah mau selesai,” ujarku.
“Loh kenapa abang gak bilang?”
“Tadi mau kusampaikan, tapi kukira belum perlu. Lagi pula, aku lebih suka mendengar kamu ngomong, daripada bicara,” timpalku.
Linda pun tersipu. Ia mulai coleteh lagi, soal kebanggaannya diterima di Fakultas Hukum. Karena menurutnya, itu sarana yang sesuai sekali untuk menjembatani cita-citanya yang ingin menjadi pengacara yang akan membela hak-hak perempuan dan anak.
Aku tersenyum. Senyumku sedikit getir. Dalam hatiku, biasalah, mahasiswa baru.
“Gimana caranya kamu membela?” Celutukku.
“Ya, dengan belajar serius dan jadi pengacara dong bang,” jawabnya serius. “Aku ingin memperjuangkan hak-hak mereka yang teraniaya.”
Aku mengangguk setuju. Kulihat gairahnya. Semangatnya. Idealismenya. Aku lihat bakatnya. Diam-diam kuperhatikan pula, detail kecantikannya. Rambut sebahu, wajah oval, dengan mata yang indah.
“Kudoakan kamu berhasil melewati semuanya. Kudoakan kamu jadi yang kamu inginkan,” ujarku.
Kami kemudian diam. Hanya suara nafas masing-masing terdengar lembut, beriringan suara mesin bis Pelangi yang tidak berhenti menembus malam.
***
Linda menepuk pundakku, memanggil-manggil berkali-kali, mencoba membangunkanku yang tertidur seperti kerbau pingsan. Tetapi aku tetap tak bergeming.
“Pap bangun. Sudah pagi. Papa kan sidang hari ini?” Linda, mengingatkan. “Ohya, kok papa lupa ya?” aku tergopoh dan meraih jam di meja rias kamar. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul enam kurang seperampat.
“Udah mandi sana, jangan lupa shalat dan berdoa loh, biar berkah.”
Aku bergegas mandi. Dan tentunya aku wudhu’ dan shalat. Selesai shalat, kulihat sepasang jas, kemaja putih dan dasi warna kuning sudah terletak rapi di atas tempat tidur.
Linda masuk kamar, dan menyodorkan sepatu dan kaos kaki.
“Nih, udah mama bersihkan,” sambil ia merapikan dasiku. “Tuh mama juga sudah siapkan sarapan dan kopi. Tapi papa janji kan, tidak banyak merokok?”
Aku meninggalkan kamar, dan tak memperhatikannya lagi. Sarapan dan kopi yang disiapkan istriku, lebih menggoda daripada duduk di dipan dan memperhatikannya berdandan. Lama dan tentunya tidak menarik ditonton.
Selesai sarapan, aku keluar ke teras belakang dekat kolam renang. Aku menikmati kopi yang disediakan istriku, sembari menghabiskan beberapa batang rokok dan baca koran.
Linda yang sepuluh tahun lalu bangga diterima menjadi mahasiswa hukum, kini berhasil menjadi pengacara sesuai yang diinginkannya. Ia menjadi asociates di kantorku.
Tetapi aku tentunya lebih bangga karena lebih berhasil. Berhasil memberikan semangat untuk keberhasilannya, dan berhasil memikatnya menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku.
Kunci keberhasilan dari keluarga kami adalah, positif thinking, saling percaya dan saling mengalah. Kami tidak mau menegakkan benang basah. Kalau tidak aku pun tidak sanggup membayangkan, rumah pasti akan jadi arena debat yang lebih seru seperti di ruang sidang pengadilan.***
--Banda Aceh, 11 Maret 1996—




