<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437</id><updated>2012-02-16T10:05:44.764-08:00</updated><category term='SAJAK'/><category term='FILOSOFI'/><category term='PROFIL'/><category term='JOKE'/><category term='CERPEN'/><title type='text'>Komunitas Sastra Farza</title><subtitle type='html'>Blog ini sebagai media komunikasi dan publikasi karya-karya saya yang masih tersisa dari tahun 1990-an sampe sekarang, untuk memenuhi permintaan beberapa kalangan agar karya tersebut tidak hilang.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-9127539891201114232</id><published>2012-01-13T06:41:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T06:42:56.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>KARENA ITULAH</title><content type='html'>Karena hidup adalah syair &lt;br /&gt;kupilih jadi penyair, &lt;br /&gt;biar bumi jadi indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup itu masalah, &lt;br /&gt;kupilih jadi advokat, &lt;br /&gt;biar hidup jadi berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup itu indah &lt;br /&gt;dan kita ingin berubah, &lt;br /&gt;kupilih jadi penyayang, &lt;br /&gt;biar takada perang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekber, 6/1/2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-9127539891201114232?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/9127539891201114232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=9127539891201114232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/9127539891201114232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/9127539891201114232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2012/01/karena-itulah.html' title='KARENA ITULAH'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-876636043366938165</id><published>2012-01-13T06:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T06:35:34.998-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>MALAM GELISAH</title><content type='html'>bulan mendadak tidur&lt;br /&gt;saat pungguk beranikandiri menatapnya&lt;br /&gt;awan menutup tirainya&lt;br /&gt;dan laut pun kehilangan cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, malam jadi tak sempurna&lt;br /&gt;kehilangan gairahnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabang, 9/1/2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-876636043366938165?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/876636043366938165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=876636043366938165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/876636043366938165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/876636043366938165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2012/01/malam-gelisah.html' title='MALAM GELISAH'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-5177878567661982988</id><published>2011-12-27T05:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T05:44:36.290-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Saat Musim Bunga Kopi Tiba</title><content type='html'>Cerpen Sriwahyuni*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-F2AEtRTgsxg/TvnLtYJhgLI/AAAAAAAAAmI/ldqNPV3rKj8/s1600/sri-wahyuni.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="158" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-F2AEtRTgsxg/TvnLtYJhgLI/AAAAAAAAAmI/ldqNPV3rKj8/s320/sri-wahyuni.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini udara sangat dingin, angin yang menghampiri ibarat jarum-jarum es yang menghujam pori. Dari sela dinding papan cahaya timur mulai membayang terang. Sekujur tubuhku terasa letih, ragaku bagai terpaku. Di sekitarku tak ada sesiapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuputar ingatan tentang apa yang terjadi. Ah, mungkin semua orang sudah keluar ke kebun, Wen munkin sudah kekebun, Mahbengi kemarin pagi kutitipkan di rumah ciknya, aku harus berjalan jauh membawa sayur-mayur dagangan ke pasar pondok baru, kasihan kalau si bungsu malang itu harus ikut, sekarang cuaca cepat berubah ubah, kadang panas sekonyong-konyong hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomat yang kami tanam dua pate tak berhasil, kami kekurangan pupuk dan obat hama, padahal harga sedang tinggi bulan-bulan ini. Hama pemakan buah itu bagai tak ada kasih sayang, dikunyahnya semua tanaman kami, kalaupun berbuah tak sempat besar sudah luruh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan malam tadi yang membuat tubuhku kaku begini, aku berusaha bangkit untuk sekedar duduk, sementara perut mulai menyampaikan sinyal ingin diisi… Ah, adakah seseorang yang sudi mengantarkan ku segelas kopi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan terbang ke sosok laki-laki ku, damaikah dia disana? Di kenonolen ini kami biasa bercengkerama, ditemani kepulan nasi dari periuk hitam, terong agor yang dipipihkan dengan bawang merah, caplak dan sebutir terasi. Lelaki ku akan sangat lahap makan dengan menu rutin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas sarapan biasanya kami bergegas kebelakang rumah menuruni lembah-lembah subur tempat tanaman kopi terhampar. Harum bunga kopi menyeruak ruang penciuman,kumbang-kumbang mencumbu gaun putih sang pengantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari butiran hijau putik kopi akan menyembul buah-buah ranum merah kehitaman, berlendir manis. Dari nyalah jutaan kehidupan lahir, senyum kami para pengutip kopi membayangkan masa depan cerah anak cucu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, aku hanya menyimpan lelaki ku dalam kelu. Tak ada lagi wangi keringatnya yang kucium basah sehabis kami mencangkul di ladang, atau guratan melingkar menghiasi seputar pipi kirinya saat dia tersenyum. Rambutnya yang kasar merah terbakar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia laki-laki ku. Kepergiannya yang tiba-tiba dalam galau negeri ini memang sudah lama kusiapkan. Sejak suatu malam dia menunjukkan setumpuk senjata di bawah tempat tidur kami. Aku sudah pasrah, dia pasti akan berumur singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prak..prak… Tamparan sengit kudengar berkali-kali. Aku menutup muka dengan kain batik panjang yang kulingkari di batas leher. Tak sanggup aku melihat paras Ama Bedul, yang tersungkur menghiba-hiba pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah pintu gerbang, aku melihat seseorang dengan kupiah beldu hitam lusuh, letaknya agak miring, sisinya melonggar seolah dalam waktu lama dipaksa masuk ke dalam benda besar. Giginya merah, bibirnya merah, komat-kamit mengunyah sirih, di bibir bagian atas menonjol tanda gumpalan tembakau sebesar jempol kaki menyesakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Mulai membuka, mukaddimah. Dari mulutnya meluncur himbauan dan umpatan-umpatan, tentang para pengacau dari gunung, yang sebagian juga adalah saudara-saudaranya sendiri. Dia menghujat-hujat, “Ini adalah pemerintahan yang sah, siapapun yang melawan adalah musuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku panas, tanganku mengepal. Hari itu kami diinterogasi satu-satu. “Saya menjual pakaian pak, saya beli dari medan, ada jilbab dan pakaian perempuan. Cuma itu cara saya bertahan hidup pak. Ke kebun saya tidak berani sendirian, lagipula anak-anak saya masih kecil-kecil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang asar baru kami di bubarkan, tengkuk terasa panas, esok hari mengelupas, perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wen anakku….apa yang kau lakukan nak? Mengapa kau permalukan ibu? Itu sepeda motor satu-satunya milik ayahmu. Jangan kau ikut-ikut anak orang kaya jadi pembalap liar. Kau anak musibah, harusnya kau belajar dengan apa yang kita alami. Bantu ibu di kebun saja, kau lihat buah kopi kita telah banyak jatuh ke tanah, musim hujan kali ini sangat panjang, kopi cepat matang, ibu tidak sanggup kekebun sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida…mengapa kau tak pernah mengirim kabar pada ibu nak? Ibu rindu nak, bagaimana kuliahmu? Maafkan nak, ibu belum bisa kirim uang belanjamu lagi, Ibu makin sering sakit-sakitan, kebutuhan kita di rumah makin banyak, cari uang susah. Kau tau kan adik Wen mu, dia bikin masalah. Gara-gara iseng menggoda anak gadis orang, dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia tidak lakukan. Adik ipar mu sedang mengandung, Ibu harus menanggung semuanya. Aku mendengar kabar tak sedap tentangmu Ida. Orang -orang yang sering bolak-balik ke kota cerita, kau sekarang makin cantik dan menarik, teman-temanmu ramai, tapi aku meresahkanmu nak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar! Suara keras datang dari halaman. Sontak aku melompat dari tempat tidur. Kutarik tangan Ida, dia terhuyung-huyung menuju pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wen di tangan kanan, Mahbengi digendongan berteriak ketakutan. Ibu..ibu sepatuku jangan ditinggal. Itu yang ibu baru beli kemaren kan…ibu..ibu…aku takut …. suara Mahbengi tenggelam dalam teriakan ratusan orang kesetanan. Bakar..bakar…ini rumah pemberontak…..cari laki nya, ganyang anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari seperti kesetanan, kami berlari ke belakang rumah, kuterobos rimbun batang kopi, menuju tanah menurun. Ibu! aku jatuh suara Ida yang terjerembab, wajahnya tertumbuk tanah basah. Bangkit nak….kita harus lari, jangan sampai mereka temukan kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua rasa sakit tak kugubris, fikiranku hanya satu bebas dari pengejaran para penyerang itu. Saat pagi menjelang, kami sampai di batas kota. Mahbengi merengek, sepatu barunya tertinggal di rumah yang sudah menjadi abu. Kaki Ida terluka, darah kering tertinggal di betis putihnya. Kupeluk anak-anak ku, tangis kami tumpah ruah, aku tak bisa bayangkan masa depan kami. Sementara laki-laki ku entah dimana? Kabarnya dia mati tertembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih saja terbujur kaku. Entah sudah berapa lama aku terbaring di sepetak balai kayu ini. Ini adalah tempat favorit kami di rumah,. Dulu sebelum rumah kami dibakar, aku punya tikar kertan dengan motif bunga warna-warni, tikar ini sengaja dianyam berlapis agar nyaman dipakai melawan udara dingin. Ine adalah pengayamn tikar yang sangat ahli, sepanjang ingatanku hampir tak ada malam yang tak dilewatkannya dengan membuat tikar tradisional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan bambu yang tipiskan, Ine dengan telaten menyisip tikar-tikar tua yang sobek atau digigit tikus. Menambalnya satu demi satu menggunakan kertan baru yang warna nya lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di awal perkawinanku, dengan penuh senang dia gulungkan tikar terbaik, Ini bawalah anakku, tikar ini adalah hadiah dariku, sengaja kucarikan bunganya yang paling indah buatmu. Senyum Ine masih membayang, belai nyapun masih hangat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti terperangkap dengan ruang-ruang waktu, di mana lusinan wajah menghampiri silih berganti. Ada yang menyeringai, ada yang kelihatan sangat marah. Lelaki ku kadang tersenyum.. tertawa. Lalu kami berlari-lari diantara hutan pinus, bor cempege memanggu gagu. Oh merkusiku, harum rambutmu, oh melati putih jiwa mu, lelaki ku menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan waktu yang lain datang lagi, kulihat wajah Ine Kule pucat pasi. Darah banyak keluar merembes di antara kakinya. Tangisan bayi yang baru lahir itu belum berhenti, Saodah memecah telur ayam kampung ke dalam gelas batu berisi bubuk kopi kental, dikocoknya dengan kencang menggunakan sendok makan gagang berukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minum kan ini kak”, ujar Saodah, lalu aku dibantu seorang bidan kampung menurunkan tubuh Ine Kule ke lantai, ”Naikkan kakinya ke atas tempat tidur, badannya biar di lantai saja”, ujar bidan kampung itu dalam bahasa Aceh pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelarian ini kami tak bisa berharap pengobatan yang layak bagi Ine Kule. Aku tertidur malam itu dengan lirih doa, “Ya Allah selamatkan adikku ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal masa damai, Ine Kule masih sering bertandang ke tempatku. Kami bercerita banyak hal, soal pengalaman di masa lalu, sampai sikap para panglima yang sudah banyak berubah, atau rumah yang dibangunkan untuk kami mirip dengan kandang sapi. Tentang bayaran sebagai buruh tani yang hanya cukup beli beras sebambu, lalu besok cari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya bisa menertawakan nasib, toh zaman sudah berubah. Kami adalah perempuan yang dikhianat sejarah sendiri. Ine Kule juga tak pernah lagi cerita soal suaminya. Suatu saat ia berujar; “Kabarnya dia telah hidup bahagia di kutaraja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan ujung kakiku sulit kugerakkan. Makin lama makin ramai orang berdatangan. Ada Ida dengan wajah penuh riasan, matanya cekung, sepertinya dia lama dalam kelelahan. Wen masih saja seperti dulu, kekanak-kanakan meski dia adalah seorang ayah sekarang. Apapun dia, aku sangat menyayanginya. Mahbengi putri kecilku yang cantik sedang menangis, ada apa gerangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sana, coba lah lihat, lelaki ku berbaju putih, sinar terang mengelilinginya, rupanya mengkilap, tangannya terbentang lebar, “Merkusiku, harumku, mari ke sini bersamaku! Sementara di luar, bunga kopi bermekaran. Cecempala lagukan kepiluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 22 November 2011&lt;br /&gt;NOTE:&lt;br /&gt;Kenonolen &gt; balai tempat duduk khas gayo&lt;br /&gt;Ine &gt; Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER: http://atjehpost.com/index-berita/82-seni/9354-saat-musim-bunga-kopi-tiba.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;*) Sriwahyuni adalah aktivis perempuan dan Calon Bupati Bener Meriah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-5177878567661982988?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/5177878567661982988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=5177878567661982988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5177878567661982988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5177878567661982988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2011/12/saat-musim-bunga-kopi-tiba.html' title='Saat Musim Bunga Kopi Tiba'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-F2AEtRTgsxg/TvnLtYJhgLI/AAAAAAAAAmI/ldqNPV3rKj8/s72-c/sri-wahyuni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-6146534297268627171</id><published>2011-07-21T19:34:00.000-07:00</published><updated>2011-07-21T19:34:49.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>SANG PENYAIR</title><content type='html'>J.Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal Dolah empat tahun lalu.Ketika itu dia menyutradarai sebuah drama karya William Shakespheare, di Taman Budaya, dan sukses.Orang-orang menyalami dia memberi ucapan selamat sudah termasuk diantaranya aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku berhasil menemukan alamatnya.Aku perhatikan kehidupannya yang serba tak layak, aku prihatin.Sungguh kontra dengan kepopulerannya sebagai sutradara ternama dan penyair.Aku benar-benar prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku membayangkan bahwa dia hidup senang dalam arti tidak melarat seperti itu.Dia telah banyak menyumbangkan pemikiran dalam khasanah kesusastaraan.Cerpen-cerpennya banyak aku temukan di beberapa media massa lokal dan media terbitan ibukota.Puisi-puisi karyanya banyak dibacakan di forum-forum seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika aku membaca satu puisinya disurat kabar terbitan ibukota.Aku sangat tertarik oleh kelihaian Dolah mengangkat tema sosial.Kekuatan imajinasi dan pemakaian diksi yang tepat, membuat apa yang ia tulis betul-betul pas, terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penikmat seni, khususnya seni sastra, aku menyukai puisi-puisi Dolah.Menurutku, Dolah itu realis, mau melihat apa yang sebenarnya terjadi dan membeberkannya.dia tidak melankolis, cengeng, apalagi membeo, seperti kebanyakan penyair seangkatannya.dia berani memprotes apa yang dirasakannya tidak wajar. Walaupun protesnya tak bisa dipahami oleh perasaan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rumahku dengan tempat kediaman Dolah berjauhan, sudah tentu aku tidak bisa jumpa dia setiap waktu.Aku hanya bisa mengakrabinya lewat karya-karya yang ia lahirkan.Aku terus mengikuti perkembangan karyanya, yang ditinjau dari kualitas dan kuantitas cukup berhasil, sangat berhasil malah.Aku pikir, Dolah kaya sekarang.kesimpulan tersebut berdasarkan banyaknya karya Dolah yang dipublisir, disamping-samping berita-berita koran yang mengetengahkan kesibukkannya sebagai sutradara drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulanku ternyata melenceng jauh.Dolah masih tetap sebagai penghuni gubuk reot yang dulu, dengan lubang-lubang kecil tembus langit di atapnya.Hal ini secara berani telah kutanyakan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bung Dolah, kok masih seperti dulu, maksudku, rumah bung masih seperti empat tahun lali,”celotehku.”padahal saya sering menemukan karya-karya bung di beberapa media massa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, anda terkejut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajarkan?”kalau saya sedikit terkejut dan prihatin dengan keadaan bung? Tulisan bung banyak saya baca, bukankua setiap tulisan itu diberikan honor?”tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterkejutan dan keprihatinan anda memang wajar.Tapi apakah anda mengira, hanya saya yang hidup ala kadarnya seperti ini?”Anda tidak perhatikan, bahwa kebanyakam penyair lain pun hidup seperti saya? Memang sudah ada yang baik, karena mereka bekerja ditempat lain disamping sebagai penyair.Bahkan sudah ada yang jadi birokrat,”kat Dolah sedikit bersuara tinggi sebagai pertanda bahwa dia sedikit emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tadi anda sebut-sebut masalah honor,”lanjutnya.&lt;br /&gt;“Apa anda kira, karya sastra mahal dibayar di negeri ini? Anda harus tahu, karya sastra sementara waktu hanya ada dihati penyair dan segelintir orang, seperti anda misalnya,”Dolah memuntahkan kekesalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi bung juga harus melihat kenyataan, bahwa banyak penyair yang hidupnya senang, hidup mewah dengan hartan benda,”pancingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga senang kok, malah kelewat senang.Anda salah, bung.Anda mengira bahwa kesenangan hanya ada pada orang yang berharta.Orang yang hidupnya senin kamis seperti saya anda tempatkan saya sebagai manusia yang tidak bahagia.Padahal tidak begitu bukan?saya misalnya, bisa minum kopi dan merokok adalah suatu kesenangan yang sukar saya lukiskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dolah memandang jauh keluar.Ada anak-anak yang men jingkrak-jingkrak di halaman gubuknya.Dia hisap rokok kreteknya dalam-dalam sampai matanya berair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sekedar anda ketahui, bahwa ijazah saya sangat mendukung, kalau misalnya saya mau jadi pegawai negri.Namun hal itu tidak saya lakukan, walau tawaran untuk itu telah ada.Saya takut, bahwa saya tidak mampu menahan nafsu hingga saya korupsi, itu yang sangat saya takuti,” mata Dolah tambah berkaca, aku seperti tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau hal itu yang bung takutkan, saya rasa, tergantung pribadi orang yang bersangkutan.Bila bung memang jujur, tentu hal itu tidak akan pernah terjadi,”sindirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu yang enggak bisa.Sekarang, idealis itu tidak bisa jalan.Kalau saya bekerja, lalu saya kawin.Istri saya akan minta ini itu, sementara keadaan mendukung, apakah saya bisa bertahan?konon pula sekarang, ada anggapan macam-macam kalau ada yang jujur dalam pekerjaannya, ya munafiklah, sok idealislah, pokoknya payah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam aku mengakui bhwa yang disinyalir Dolah hampir semuanya benar.Sebagai seorang abdi negara, aku sebenarnya juga telah banyak makan yang bukan hakku, walaupun aku belum bisa digolongkan kelas kakap.Misalnya ketika pembagian uang bantuan desa, itu juga aku ciduk sepersekiannya.Lalu aku mulai berfikir, mungkin tindakan atasan-atasanku tentu melebihi aku.Tak heran jika mereka cepat dapat mobil dan rumah mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu pertama aku bekerja, padahal aku sudah berjanji untuk bekerja sujujurnya dan seikhlasnya an menerima apa yang menjadi hakku.Tetapi kenyatannya memang susah, apalagi tunjangan jabatan menurut orang bilang tidak cukup untuk hidup layak.Lha, yang namanya kesempatan, tentu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.Kenyataannya aku makmur kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus terang aku salut dengan pola pikir dan pola hidup bung,”kataku.”mungkin, kalau seluruh pribadi masyarakat negri ini berprinsip seperti bung, kemakmuran rakyat sejak dulu sudah kita dapatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, anda jangan mimpi.Mana ada sekitar ratus juta jiwa memiliki ide yang sama, itu mustahil.Dan saya rasa lebih baik hal seperti itu tidak ada, sebab kehidupan akan tidal dinamis.Kan bagus sekarang, hidup di alam yang sama tapi variatif.”Dolah berucap seolah tidak tidak menghendaki jawaban.Barangkali sebagai bahan renungan bagiku atau sebagai bahan pertimbangan bagiku untuk membenarkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, saya ingin menawari anda modal usaha, maaf, semoga tujuan saya tidak salah artikan.Betul, sebagai rasa simpati saya, sebagai rasa persaudaraan kita, saya harap bung terima.”tawarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengerti maksud anda.Tapi maaf juga, saya tidak dapat menerimanya.Bukan saya menolak kebaikan anda itu, tapi saya lebih senang hidup begini, saya harap anda mengerti.Saya tidak ingin menambah beban pikiran saya dengan tawaran anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, apa boleh buat.Namun saya selalu menyempatkan diri, kalau suatu waktu bung membutuhkan saya.Ini kartu saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa prihatin dengan kehidupan bung Dolah, walau aku kagum dengan cara hidup dan prinsip yang ia jalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku bersiap-siap ingin keluar dari rumah reot itu, seorang petugas berpakaian seragam muncul.Petugas tersebut menyampaikan surat bahwa bung Dolah harus pindah secepatnya dari rumah yang telah ia huni bertahun-tahun.Tanah tersebut ternyata kena draf perluasan kota.Aku sempat melihat bung Dolah bingung dan gundah, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.Aku tidak bisa memperjuangkan agar bung Dolah bisa tetap tinggal di tempat tinggalnya.Kalau aku bersikeras juga, aku takut jabatanku terancam. Aku hanya bisa prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 22 January 1993 /Dimuat di Harian Serambi Indonesia, 22 Jan 1993.&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-f8ZYlc1VFEA/TijhkfcBoDI/AAAAAAAAAlg/1Lm6V7NYb18/s1600/penyair1.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="241" width="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-f8ZYlc1VFEA/TijhkfcBoDI/AAAAAAAAAlg/1Lm6V7NYb18/s320/penyair1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Photo: atmokanjeng&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-6146534297268627171?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/6146534297268627171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=6146534297268627171' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/6146534297268627171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/6146534297268627171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2011/07/sang-penyair.html' title='SANG PENYAIR'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-f8ZYlc1VFEA/TijhkfcBoDI/AAAAAAAAAlg/1Lm6V7NYb18/s72-c/penyair1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-4389769970077931232</id><published>2011-06-17T08:24:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T08:25:47.933-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>LAUT</title><content type='html'>J. Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap memandangi laut,&lt;br /&gt;selalu ingin menjadi nelayan,&lt;br /&gt;membawamu seekor ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap memandangi laut,&lt;br /&gt;selalu ingin menjadi pawang,&lt;br /&gt;menaklukkan buaya, agar kau aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap memandangi laut,&lt;br /&gt;selalu ingin punya perahu,&lt;br /&gt;membawamu berlayar,&lt;br /&gt;lepas dari belenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika memandang laut&lt;br /&gt;menunggu air surut,&lt;br /&gt;menunggumu sampai aku&lt;br /&gt;dan kau pun keriput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabang, 17 June 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-4389769970077931232?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/4389769970077931232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=4389769970077931232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/4389769970077931232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/4389769970077931232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2011/06/laut.html' title='LAUT'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-7266754539011016222</id><published>2011-05-15T07:27:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T07:31:17.239-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>ULEELHEUE</title><content type='html'>..: J. Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seseorang bertanya, &lt;br /&gt;uleelheue masih ada?&lt;br /&gt;ombak, angin, derita&lt;br /&gt;dan bahagianya?&lt;br /&gt;setelah bala air bertuba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seseorang berkata, &lt;br /&gt;uleelheue masih ada,&lt;br /&gt;dengan ombak dan angin&lt;br /&gt;lebih sempurna&lt;br /&gt;tariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terpana, takjub&lt;br /&gt;menatap senyumnya,&lt;br /&gt;uleelheue sempurna&lt;br /&gt;menyimpan deritanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandaraya, 15511&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-wq66D35gr8I/Tc_jS5L4cCI/AAAAAAAAAkY/wMlPEm6fDgM/s1600/41441223.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-wq66D35gr8I/Tc_jS5L4cCI/AAAAAAAAAkY/wMlPEm6fDgM/s320/41441223.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5606949974827364386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan Uleelheu (Photo: .panoramio.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-7266754539011016222?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/7266754539011016222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=7266754539011016222' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/7266754539011016222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/7266754539011016222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2011/05/uleelheue.html' title='ULEELHEUE'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wq66D35gr8I/Tc_jS5L4cCI/AAAAAAAAAkY/wMlPEm6fDgM/s72-c/41441223.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-9040498394342550382</id><published>2010-05-03T22:53:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T22:57:24.188-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FILOSOFI'/><title type='text'>Konfusius Mengajarkan Cinta, Keramahtamahan dan Sopan Santun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/S9-3E-l3bXI/AAAAAAAAAjQ/PRyjAyhmplU/s1600/confusius.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/S9-3E-l3bXI/AAAAAAAAAjQ/PRyjAyhmplU/s320/confusius.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467289768800251250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari duaribu tahun yang lalu, Konfusius atau Kong Hu-Cu (551 SM – 479 SM) lahir kedunia dan membawa ajaran cinta, keramahtamahan dan sopan santun. Dilahirkan di kota kecil Lu (kini termasuk provinsi Shantung di timur laut daratan Cina) dia telah ditinggal mati ayahnya dalam usianya yang masih muda, sehingga harus hidup sengsara bersama ibunya. Sebagai seorang filsuf besar Cina yang belajar sendiri (otodidak), Kong Hu-Cu memberikan pengaruh yang amat besar dalam kebudayaan bahkan sikap hidup (way of life) bangsa Cina, yang perngaruhnya terasa sampai ke Jepang, Korea dan bahkan Vietnam. Ajarannya yang kemudian dikenal dengan Konfusianisme menjadi seolah sinonim dengan pelajaran tentang Cina, dan bagi sebagian orang dianggap sebagai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode antara tahun 550 SM sampai 200 SM dalam sejarah dikenal jaman klasik, yang melahirkan “ratusan filsuf”, yang secara umum terbagi atas enam mazhab: Konfusianisme, Taoisme, Moisme, mazhab Yin-Yang, Dialektika dan Legalisme. Ajaran utama konfusianisme adalah “yen” dan “li”. Yen secara umum diartikan sebagai cinta, atau lebih luas lagi keramahtamahan. Sedangkan li dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun. Nilai-nilai lainnya dalam ajaran Konfusius adalah kebajikan dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat, kualitas moral dari seorang manusia yang ideal juga termasuk yang memiliki kualifikasi kepemimpinan. Gagasan tentang seni memerintah, yang termasuk didalamnya adalah mengatur sesuatu dengan benar, adalah hal yang sudah dikenal sejak sebelum ajaran Konfusius. Akan tetapi Konfusius menyempurnakannya dengan pertama-tama mendahulukan karakter pribadi yang harus benar terlebih dahulu. Dalam menjawab pertanyaan tentang pemerintahan yang baik, Konfusius mengatakan: “Memerintah adalah mengatur segalanya menjadi benar. Apabila anda memulai diri sendiri dengan benar, siapa yang akan berani untuk menyimpang dari kebenaran?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Konfusius adalah arah menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu maupun dalam masyarakat. Ajaran ini lebih mudah difahami melalui perjalanan hidup sang filsuf. Konfusius mengatakan: “pada umur 15 tahun aku siapkan hatiku untuk belajar; pada usia 30 aku merasa diriku sudah mapan; mencapai usia 40 aku tidak punya keraguan lagi dalam diriku; saat berumur 50 aku tahu wasiat Surga; sewaktu berumur 60 aku siap mendengar itu; pada umur 70 aku bisa mengikuti keinginan hatiku tanpa harus mendahului kebenaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michale Hart, dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, menempatkan Konfusius dalam urutan kelima setelah Nabi Muhammad, Isaac Newton, Nabi Isa dan Buddha. Pengaruh ajaran Konfusius memang amat besar, tapi terbatas pada wilayah Asia Timur. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap dunia barat juga ada, yang berbekas pada pemikiran-pemikiran Leibniz dan Voltaire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir hayatnya Konfusius merasa tidak banyak memberikan arti dan sumbangan pemikiran bagi rakyatnya. Tapi sejarah membuktikan yang sebaliknya. Pada masa dinasti Ch’in tahun 221 SM, Konfusianisme pernah dilarang. Kaisar Shig Huang Ti, kaisar pertama dinasti Ch’in membabat habis pengaruh Konfusianisme dan memenggal mata rantai yang menghubungkannya dengan masa lampau. Tapi pengaruh Konfusianisme tidak luntur, bahkan tumbuh semakin subur. Pada masa dinasti Han (206 Sm – 220 SM), Konfusianisme bahkan menjadi filsafat resmi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, lebih dari 2000 tahun setelah kelahiran Konfusianisme, ajaran-ajarannya masih terasa relevan dalam situasi sekarang. Tidak hanya bagi masyarakat Cina, tapi juga bagi kita yang merasa kebenaran seolah bersembunyi entah dimana, bagi masyarakat kita yang rasa cinta, keramahtamahan dan sopan santun seolah menghilang dari lubuk hati. Cinta, keramahtamahan dan sopan santun yang kita warisi dari leluhur kita sendiri seolah hilang tanpa bekas. Jadi, tidak ada salahnya belajar kebajikan sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang universal, meskipun itu datangnya dari negeri Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2010/02/06/konfusius-mengajarkan-cinta-keramahtamahan-dan-sopan-santun/Dari berbagai bahan, al Encyclopedia Britannica&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-9040498394342550382?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/9040498394342550382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=9040498394342550382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/9040498394342550382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/9040498394342550382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2010/05/konfusius-mengajarkan-cinta.html' title='Konfusius Mengajarkan Cinta, Keramahtamahan dan Sopan Santun'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/S9-3E-l3bXI/AAAAAAAAAjQ/PRyjAyhmplU/s72-c/confusius.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-4849209493199485486</id><published>2010-03-14T19:20:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T19:20:02.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='JOKE'/><title type='text'>BUKU HARIAN ISTRI</title><content type='html'>Rumitnya seorang istri &amp;amp; simplenya seorang suami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU HARIAN ISTRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu malam - Dia bertingkah aneh, sebelumnya kami berjanji bertemu di cafe. Aku shopping dengan teman teman, sehingga dia mungkin karena aku agak telat, sampai di cafe, dia tidak berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ketempat yang agak sepi supaya ngobrolnya agak enak, dia setuju tapi tetap diam dan berjarak. Aku tanyakan ” apa ada yang salah “, dia menjawab ” tak ada “. Aku tanyakan apakah kesalahannku yang membuatnya kesal, dia bilang hal ini tidak ada kaitannya denganku dan minta aku gak usah khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, kubilang aku mencintainya, dia cuman tersenyum tipis dan tetap menyetir. Aku tidak bisa menjelaskan perangainya sore itu. Aku tak habis fikir kenapa dia tak menjawab, ” Aku juga cinta kamu “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah aku merasa kehilangan dia, dan seolah olah dia tak menghendaki aku lagi. dia hanya duduk dan menonton didepan tv, dia terlihat jauh dan menghilang……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Sekitar 10 menit kemudian, dia menyusul ke kamar. Aku nggak tahan lagi, aku putuskan untuk menghadapinya dan menanyakan soal sebenarnya, tapi dia langsung tertidur. Aku mulai menangis sampai tertidur. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hidupku serasa kiamat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU HARIAN SUAMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini REAL MADRID kalah. SIALAAANNNNNN!!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-4849209493199485486?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/4849209493199485486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=4849209493199485486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/4849209493199485486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/4849209493199485486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2010/03/buku-harian-istri.html' title='BUKU HARIAN ISTRI'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-4945685799921674053</id><published>2009-07-14T01:56:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T02:17:18.089-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Panggil Aku Linda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SlxNAjocbTI/AAAAAAAAAis/Jf5Dh_8jwfY/s1600-h/kopita.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SlxNAjocbTI/AAAAAAAAAis/Jf5Dh_8jwfY/s320/kopita.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358242328624262450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Cerpen J. Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bis Pelangi pelan-pelan bergerak meninggalkan stasiun Gajahmada, seiring menghilangnya suara hiruk pikuk kondektur yang menata tempat duduk penumpang।  Bis kemudian mengencang, dan sesekali melambat menyiasati jalanan yang padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk sendirian. Duduk di sisi paling kanan ‘bis 21’ yang membawaku dari Medan ke Banda Aceh. Di sisi paling kiri kulihat seorang ibu, mungkin seumur 50an duduk di bangku tunggal. Dia sudah menarik selimut untuk menghindari dingin yang dipancarkan AC.  Tarikan selimutnya beriringan pula dengan tarikan kantuknya yang kemudian membawanya tertidur.&lt;br /&gt;Entah kenapa, kondektur membiarkan kursi di sampingku kosong. “Mungkin ada penumpang yang batal berangkat,” gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengusir dingin dan kebosanan di perjalanan, aku raih jaket dan sebuah buku di ranselku. Kunyalakan lampu baca,  dan mulai melanjutkan membaca, halaman bertanda  novel Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol.  Sebuah kisah yang menceritakan seorang pekerja seksual komersial, yang menggugat lembaga perkawinan sebagai lembaga yang dibangun di atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum perempuan.  “Aku bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami aku, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku membaca hal 147: “....Mereka menghukum  aku sampai mati bukan karena aku telah membunuh seorang lelaki – beribu-ribu orang yang di bunuh tiap hari—tetapi karena mereka takut untuk membiarkan aku hidup. Mereka tahu bahwa selama aku masih hidup mereka tidak akan aman, aku akan membunuh mereka. Hidup aku berarti kematian mereka, kematian aku berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, perampokan, perampasan. Aku telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena aku sudah tak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi takut mati.”...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi asik membaca, tiba-tiba bis berhenti, di pinggiran jalan, yang kutahu itu di Binjai। Seorang perempuan muda dan cantik, naik dan kemudian mencari tempat duduk, persis di sebelahku. Hanya dengan menyebut hai, dia langsung duduk.&lt;br /&gt;“Aku Linda,” dia menyodorkan tangan pertanda minta salaman. “Panggil aku Linda.” Aku pun refleks menyambut tangannya, dan menyebut namaku, nyaris berbisik. Aku agak segan membuka mulut terlalu lebar, takut mulutku tak wangi.&lt;br /&gt;“Siapa?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Jeka,” sebutku dengan melepas tangannya. “Panggil aku Jeka,” ulangku lagi, menirukan gayanya memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merapikan duduk, sembari melanjutkan membaca. Tetapi Linda kayanya ingin mengobrol. Maka kuletakkan bukunya, dan kami pun mengobrol. Malam terus berpacu seiring bis yang terus melewati kota demi kota, membawa kami ke Banda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda, menurutku tipe gadis belia yang  cantik juga suka bicara. Bahkan ia suka blablakan dan tidak berhenti ngomong hampir sepanjang perjalanan. Kadang kusuka informasi yang disampaikan, tetapi banyak juga yang aku tidak suka, karena informasi itu tidak aku butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  pengakuannya, lahir dari perkawinan campuran yang ibu sunda dan ayah Aceh. Ibunya seorang dokter. Ayahnya seorang seorang insinyur, dan manager sebuah perusahaan perkebunan negara di Binjai.  Linda, selama sepuluh tahun terakhir tinggal di kota kebun itu.&lt;br /&gt;“Aku baru saja lulus seleksi masuk Unsyiah,” ujar Linda. “Dan aku menyukainya, karena diterima di Fakultas Hukum,” timpalnya.&lt;br /&gt;Begitu ia menyebut nama fakultas itu, jantungku berdesir.&lt;br /&gt;“Ah masa? Benar? Kamu diterima di Fakultas Hukum???” aku bertanya dengan nada heran.&lt;br /&gt;“Iya, kok gak percaya sih?”&lt;br /&gt;“Percaya, percaya.”&lt;br /&gt;“Tahu gak bang, aku suka sekali. Karena itu adalah pilihan pertama. Kenapa abang jadi heran? Apa aku tidak pantas?” ia balik bertanya.&lt;br /&gt;“O tidak. Kamu sangat pantas. Tampilan, gaya bicara dan rasa percaya dirimu, kamu memang pantas jadi mahasiswa fakultas hukum,” ujarku seperti menebar pujian. Ia tersenyum malu, mendengar ucapanku.&lt;br /&gt;“Lalu kenapa Bang Jeka heran?”&lt;br /&gt;“Gak heran kok. Aku juga mahasiswa fakultas yang sama. Tetapi aku sudah mau selesai,” ujarku.&lt;br /&gt;“Loh kenapa abang gak bilang?”&lt;br /&gt;“Tadi mau kusampaikan, tapi kukira belum perlu. Lagi pula, aku lebih suka mendengar kamu ngomong, daripada bicara,” timpalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda pun tersipu. Ia mulai coleteh lagi, soal kebanggaannya diterima di Fakultas Hukum. Karena menurutnya, itu sarana yang sesuai sekali untuk menjembatani cita-citanya yang ingin menjadi pengacara yang akan membela hak-hak perempuan dan anak.&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Senyumku sedikit getir. Dalam hatiku, biasalah, mahasiswa baru.&lt;br /&gt;“Gimana caranya kamu membela?” Celutukku.&lt;br /&gt;“Ya, dengan belajar serius dan jadi pengacara dong bang,” jawabnya serius. “Aku ingin memperjuangkan hak-hak mereka yang teraniaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk setuju. Kulihat gairahnya. Semangatnya. Idealismenya. Aku lihat bakatnya.  Diam-diam kuperhatikan pula, detail kecantikannya. Rambut sebahu, wajah oval, dengan mata yang indah.&lt;br /&gt;“Kudoakan kamu berhasil melewati semuanya. Kudoakan kamu jadi yang kamu inginkan,” ujarku.&lt;br /&gt;Kami kemudian diam. Hanya suara nafas masing-masing terdengar lembut, beriringan suara mesin bis Pelangi yang tidak berhenti menembus malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda menepuk pundakku, memanggil-manggil berkali-kali, mencoba membangunkanku yang tertidur seperti kerbau pingsan. Tetapi aku tetap tak bergeming.&lt;br /&gt;“Pap bangun. Sudah pagi.  Papa kan sidang hari ini?” Linda, mengingatkan. “Ohya, kok papa lupa ya?” aku tergopoh dan meraih jam di meja rias kamar. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul enam kurang seperampat.&lt;br /&gt;“Udah mandi sana, jangan lupa shalat dan berdoa loh, biar berkah.”&lt;br /&gt;Aku bergegas mandi.  Dan  tentunya aku wudhu’ dan shalat. Selesai shalat, kulihat sepasang jas, kemaja putih dan dasi warna kuning  sudah terletak rapi di atas tempat tidur.&lt;br /&gt;Linda masuk kamar, dan menyodorkan sepatu dan kaos kaki.&lt;br /&gt;“Nih, udah mama bersihkan,” sambil ia merapikan dasiku. “Tuh mama juga sudah siapkan sarapan dan kopi. Tapi papa janji kan, tidak banyak merokok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meninggalkan kamar, dan tak memperhatikannya lagi. Sarapan dan kopi yang disiapkan istriku, lebih menggoda daripada duduk di dipan dan memperhatikannya berdandan.  Lama dan tentunya tidak menarik ditonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai  sarapan, aku keluar ke teras belakang dekat kolam renang.  Aku menikmati kopi yang disediakan istriku, sembari menghabiskan beberapa batang rokok dan baca koran.&lt;br /&gt;Linda yang sepuluh tahun lalu bangga diterima menjadi mahasiswa hukum, kini berhasil menjadi pengacara sesuai yang diinginkannya. Ia menjadi asociates di kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku tentunya lebih bangga karena lebih berhasil.  Berhasil memberikan semangat untuk keberhasilannya, dan berhasil memikatnya menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku.&lt;br /&gt;Kunci keberhasilan dari keluarga kami adalah, positif thinking, saling percaya dan saling mengalah. Kami tidak  mau menegakkan benang basah. Kalau tidak aku pun tidak sanggup membayangkan, rumah pasti akan jadi arena debat yang lebih seru seperti di ruang sidang pengadilan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;--Banda Aceh, 11 Maret 1996—&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-4945685799921674053?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/4945685799921674053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=4945685799921674053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/4945685799921674053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/4945685799921674053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2009/07/panggil-aku-linda.html' title='Panggil Aku Linda'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SlxNAjocbTI/AAAAAAAAAis/Jf5Dh_8jwfY/s72-c/kopita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-6453264732513131284</id><published>2008-12-17T20:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T20:35:06.704-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Lelaki yang Ditelan Gerimis</title><content type='html'>Cerpen: Mustafa Ismail &lt;br /&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 287px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SUnSMvQweYI/AAAAAAAAAgM/OSefCJ6KVPo/s320/Mustafa+Ismailwebfarza.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280983154355632514" /&gt;&lt;br /&gt;[ ... ini cerpen lama saya, pernah dimuat di Kompas, Minggu, 08 Februari 2004 ... ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMI bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Sejenak aku sempat terperangah dengan kehadirannya. Aku hampir tidak mengenalnya jika ia tidak menyebut namanya sendiri, sambil bertanya kepadaku dalam logat Aceh yang kental, "Kau masih ingat kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas saja aku masih ingat Suman, teman baikku ketika di pesantren dulu. Kami satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah. Beberapa kali Teungku Ubit, guru ngaji kami, memergoki kami keluar dan esoknya kami kena hukuman dipukul telapak tangan dengan sapu lidi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihnya luar biasa. Bekas merahnya seminggu baru hilang. Tetapi hukuman itu tidak bisa dielakkan. Bukan hanya kami, sejumlah kawan lain yang kepergok menonton televisi sehabis mengaji juga dihukum. Di dayah kami memang ada aturan tidak boleh menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, televisi banyak menyiarkan sesuatu yang tak bagus untuk dilihat mata. Misalnya, perempuan yang tidak menutup aurat, bahkan mengumbar aurat, tari-tarian atau lagu-lagu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan di dayah. Siapa pun yang melanggar peraturan itu, tanggung sendiri akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak santri memang patuh. Tetapi ada sebagian yang bandel, mencuri-curi untuk bisa keluar dari kompleks dayah demi menonton televisi. Di antara sebagian itu, ya kami, aku dan Suman. Nyaris setiap malam kami keluar lewat jendela belakang bilik dan mengendap- endap keluar melalui pintu samping tempat wudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sengaja memilih pintu samping tempat wudu, sebab kalau kepergok sama teungku, tidak sulit mencari alasan. Kami langsung bilang: mau shalat sunat, atau berwudu untuk mengaji, dan macam-macamlah. Yang sulit kalau kepergok ketika sudah berada di luar kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu cerita ketika kami di pesantren. Lulus SMP, aku tidak lagi mondok di situ dan melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Suman melanjutkan sekolah di kampung dan tetap mondok. Ia sekolah sambil tetap bisa mondok. Antara sekolah dan dayah pesantren memang lembaga terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya. Yang ada cuma mengaji, baik mengaji Al Quran, maupun kitab-kitab klasik. Ketika era aku mondok dulu, tahun 1980-an, memang dapat dihitung dengan jari ada pondok pesantren modern, yang menggabungkan pesantren dan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sekolah di Banda Aceh, aku masih suka ketemu sesekali kalau pas liburan dan pulang ke kampung. Suman telah menjadi asisten teungku yang mengajar anak-anak di bawah usianya. Penampilannya pun jadi berbeda. Ia menjadi lebih alim. Kemana-mana pakai peci dan bersarung. Orang-orang pun menyebutnya teungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh. Sambil kuliah, ia tetap mondok di pesantren di pinggiran Kota Banda Aceh. Di sana, ia juga menjadi asisten teungku dayah, mengajar ngaji untuk santri di bawah usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, aku tidak tahu lagi tentang dia. Betul-betul putus kontak. Baru kali inilah kami bertemu kembali. Cukup lama sekali kami terpisah. Tak salah kalau aku sempat pangling ketika ia mendekatiku dan menyorong tangannya untuk berjabat tangan denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suman sudah sangat jauh berubah. Dulu badannya ceking, seperti tiang listrik kata teman-teman, sekarang padat berisi. Air mukanya serius, namun tetap memancarkan kesejukan. Beberapa helai jenggotnya dibiarkan memanjang. Kalau dulu ia suka memanjangkan rambut, sekarang tidak. Ia lebih rapi kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana bisa kau ada di sini," tanyanya setelah ia menarik kursi dan duduk menghadap ke arahku. "Kudengar kau sudah jadi pengacara hebat di Jakarta," ujarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak juga. Aku masih bekerja di kantor pengacara orang. Berarti itu belum hebat. Pengacara hebat tentulah sudah punya kantor firma hukum sendiri," kataku. "Omongomong apa kegiatanmu sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kami terhenti ketika penjual makanan datang membawa secangkir kopi panas dan menaruh di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah lulus kuliah, di samping tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku ingin berbuat sesuatu yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini tertindas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya? Tapi tidak pernah kudengar namamu ditulis koran- koran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bukan selebriti dan tidak hendak menjadi selebriti. Aku bekerja di bawah, menggali masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan mencoba mengatasinya. Misalnya kalau mereka mengungsi, kami mengupayakan anak-anak mereka tetap bisa sekolah dengan mendirikan tenda sekolah darurat. Atau kalau ada orang yang menjadi korban kekerasan, kami membantu mereka untuk memulihkan trauma atau membantu mereka melaporkan kepada Komnas HAM. Hanya pekerjaan-pekerjaan seperti itu yang bisa kami lakukan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi itu sangat penting."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang penting. Aku sangat senang menjalaninya. Jadi aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar seperti dilakukan teman-teman lain sehingga mereka bisa terkenal dan namanya kerap dikutip oleh koran atau teve. Kami melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Apalagi, dana dari founding kami pas-pasan. Aku tidak pandai bicara, jadi tidak bisa meyakinkan founding untuk mengucurkan dana besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu memang soal pilihan. Sebagai teman, aku sangat mendukung pilihanmu. Meski apa yang kalian lakukan kecil, cukup berarti dan dirasakan langsung manfaatnya oleh orang yang memerlukan. Tetapi, omong-omong bagaimana kabar teman-teman baik kita dulu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, mereka tersebar di mana-mana. Si Amat menjadi dosen dan hidupnya masih tetap sederhana. Maun kini menjadi anggota DPRD dan sudah kaya dia. Mobilnya aja dua, punya rumah yang cukup besar di pusat kota. Kalau Yahya kau pasti sudah tahu, setelah menjadi aktivis, dia menjadi tokoh dan selebriti. Bolak-balik ke Jakarta dan luar negeri. Hidupnya kini juga sangat makmur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luar biasa memang kawan-kawan kita. Aku senang mendengarnya. Mereka menjadi orang sukses."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, mereka menjadi orang sukses. Tetapi rakyat di sekeliling mereka menderita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kau kayak tak tahu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ali bagaimana kabarnya?" Ali yang kumaksud adalah teman sekelas kami dulu di SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia membantuku mengabdi pada masyarakat. Dia kerap tinggal bersama pengungsi untuk mengurus keperluan mereka di pengungsian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang dia di kampung?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suman tidak menjawab. Ia diam dan menerawang. Lalu matanya berkedap-kedip dan ia menggigit bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Ali?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia mati tertembak sebulan lalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tertembak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam mendengarnya. Tak bertanya lagi mengapa Ali tertembak. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Aku tahu benar Ali. Dia orangnya alim dan pendiam, juga tidak banyak ini-itu. Dia lurus-lurus saja. Ali orang baik. Mengapa ia harus mati di ujung senjata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidup memang begitu rahasia. Hanya Tuhan yang tahu hidup dan kematian seseorang," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi di Aceh berbeda. Hidup dan kematian juga ditentukan oleh orang-orang yang punya kuasa dan senjata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menanggapi. Diam. Lama kami terdiam. Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kabar kampung kita?" tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah dua bulan tidak pulang kampung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak bisa pulang. Kau sendiri belum sampai ke kampung?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum. Aku baru tiba tadi siang dari Jakarta. Malam ini aku ingin menikmati Kota Banda Aceh dulu. Ingin nostalgia. Besok aku baru pulang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, aku titip surat untuk ayahku ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh. Boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar," katanya sambil bangkit dan berjalan meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara malam makin menyengat mengirim gigil sampai sumsum. Meski telah mengenakan jaket yang agak tebal, hawa dingin tetap menusuk. Hujanlah yang membuat Kota Banda Aceh diselimuti dingin yang tak biasa ini. Aku baru merasakan dingin sedingin ini ya kali ini. Saat pulang dua tahun lalu, suasananya biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini suratnya," kata Suman sambil menyerahkan kepadaku sebuah amplop putih polos yang telah direkatkan. Aku sempat kaget juga, tiba-tiba saja ia sudah berada kembali di depanku, entah dari mana ia muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil surat itu, melipatnya dan memasukkan ke kantong baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omong-omong bagaimana keadaan pesantren kita sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah tidak seramai dulu. Santrinya tinggal sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi santri. Santri dari luar daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing ini, mereka tidak berani keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota sekalian, misalnya ke Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teungku Ubit bagaimana kabarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ia terdiam. Matanya kembali menerawang. Ia menarik napas pelan-pelan dan mengembuskannya perlahan. "Nasib Teungku Ubit juga menyedihkan. Ia mati di ujung senjata beberapa bulan lalu," katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku tersentak. "Mengapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah," Suman menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Suasana memang begitu menyakitkan, begitu menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omong-omong ada acara apa kau pulang?" Suman lalu bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau menjemput orangtuaku dan membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak suara dar-der-dor. Mengerikan. Aku tidak tenang kalau mereka tetap berada di kampung. Kepikiran terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, memang pilihan tepat. Banyak orang yang punya anak atau familinya di Medan, Jakarta, atau di mana, meninggalkan kampung. Mereka tak kuat hidup di kampung. Tetapi yang paling kasihan orang- orang yang tidak punya siapa-siapa di luar Aceh, mereka tidak tahu harus ke mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sendiri kenapa tidak mengajak orangtuamu tinggal di Banda Aceh? Kan di sini relatif lebih tenang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orangtuaku mana mau diajak meninggalkan kampung. Meski tak nyaman dan selalu dicekam ketakutan, mereka lebih senang berada di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, memang soal pilihan. Tetapi mudah-mudahan orangtuaku tidak menolak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mudah-mudahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, aku balik dulu ya," katanya sambil menyodorkan tangan kepadaku untuk berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Kami berjabat tangan, setelah itu dia melangkah meninggalkan taman Rex. Tetapi, baru saja ia keluar dari komplek taman Rex, gerimis tiba-tiba mengepung. Kulihat dia tidak berhenti dan berbalik untuk berteduh, tetapi terus berjalan sampai hilang di belokan jalan. Gerimis seperti menelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, gerimis pun berubah menjadi hujan besar. Lebih dari setengah jam baru hujan itu reda. Setelah reda benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh dari situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku yakin bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi warga kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk kamar, aku langsung ganti pakaian dengan baju tidur. Untuk mempercepat tidur, aku menyambar koran pagi yang tergeletak di tas meja. Aku hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman, sambil membaca judul-judulnya saja. Menjelang halaman terakhir, mataku tertumbuk pada sebuah berita kecil di sudut paling bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judulnya membikin jantungku berdebar kencang. "Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah Sawah". Aku meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman dimaksud bukanlah kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi harapanku sia-sia. Dari semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mati dengan tiga lubang peluru tubuhnya. (*)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Note: &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;karya-karya Mustafa Ismail juga dapat dibaca di &lt;span style="color:#000099;"&gt;http://www.jalansetapak.com&lt;/span&gt; dan&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;http://musismail.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-6453264732513131284?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/6453264732513131284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=6453264732513131284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/6453264732513131284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/6453264732513131284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/12/lelaki-yang-ditelan-gerimis.html' title='Lelaki yang Ditelan Gerimis'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SUnSMvQweYI/AAAAAAAAAgM/OSefCJ6KVPo/s72-c/Mustafa+Ismailwebfarza.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-5269046724634273562</id><published>2008-12-15T23:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T23:37:44.891-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROFIL'/><title type='text'>Perempuan Nelangsa dalam Cerpen Happy Salma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SUdZ85J6q8I/AAAAAAAAAe8/7Ie0apqjHPw/s1600-h/happysalma.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SUdZ85J6q8I/AAAAAAAAAe8/7Ie0apqjHPw/s320/happysalma.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280287990784633794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Asep Sambodja&lt;br /&gt;KOMPAS.com | 9 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah kecurigaan. Kita dapat saja curiga kenapa Happy Salma menulis karya sastra. Kenapa Happy Salma menulis cerpen dan sudah pula diterbitkan dalam kumpulan cerpen Pulang (Depok: Koekoesan, 2006)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mengutip Ignas Kleden, setidaknya ada tiga kegelisahan yang menyebabkan seseorang menulis, yakni kegelisahan eksistensial, kegelisahan politik, dan kegelisahan metafisik. Yang menjadi persoalan kemudian adalah kegelisahan macam apa yang melatarbelakangi Happy Salma ketika menulis cerpen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang artis sinetron dan bintang iklan, Happy Salma tidak perlu lagi mencemaskan persoalan eksistensial karena ia sudah eksis di bidangnya. Namun, sebagaimana Rieke Diah Pitaloka—artis yang juga menghasilkan karya sastra berupa puisi dan berpolitik praktis—Happy Salma tampaknya merasa tidak cukup puas dengan gemerlapan di dunia selebritis. Ia ingin lebih dari sekadar terkenal sebagai artis dan bintang iklan, ingin lebih dari sekadar meraih uang dalam jumlah besar, dengan menulis karya sastra, dalam hal ini cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena apa? Kita tahu bahwa sastra sebagai karya seni berpotensi menyimpan sekaligus merekam pikiran dan perasaan kita lebih lama dan “abadi”. Dengan menuangkan gagasannya melalui karya sastra, kita sebagai pembaca tidak saja menikmati cerita Happy Salma, tetapi juga menangkap pesan yang hendak disampaikannya. Bisa jadi melalui media sastra ini, Happy Salma lebih leluasa menyampaikan dan mengekspresikan gagasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan cerpen Pulang karya Happy Salma ini sebagian besar berbicara tentang pulang; yang berarti kembali ke rumah, kembali ke kampung halaman, kembali ke orangtua, kembali ke alam baka, atau yang dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, manusia berakal yang mencoba mencari asal-muasalnya dan pencarian tujuan bagi segala yang diciptakan di muka bumi. Dalam cerpen-cerpen Happy Salma, Pulang juga bisa berarti meninggalkan tindakan buruk (Pada Sebuah Pementasan), kematian (Adik), atau juga firasat buruk yang dirasakan ibu terhadap anaknya yang tak pernah memberi kabar meskipun terus mengirim uang dari perantauan (Pertemuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga cerpen dalam kumpulan buku ini yang memperlihatkan Happy Salma serius menghasilkan karya sastra, yakni cerpen Pulang, Pertemuan, dan Ibu dan Anak Perempuannya. Saya katakan serius karena Happy Salma tidak sekadar menghibur, tapi juga bersuara, yakni menyuarakan jeritan perempuan yang nelangsa, perempuan yang sengsara. Dengan demikian, cerpen Happy Salma memenuhi fungsi karya sastra yang disebut Horatius sebagai dulce et utile (menghibur dan bermanfaat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen Pulang, Happy Salma memperlihatkan seorang perempuan yang memberontak terhadap kekangan budaya patriarki. Semakin keras kekangan itu atau semakin besar represi yang dilakukan oleh orangtua, semakin besar pula resistensi yang dilakukan seorang anak terhadap orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen tersebut, sang bapak melarang anaknya berhubungan dengan lelaki yang berbeda agama atau keyakinan. “Nar, kita orang Sunda, orang Sunda tidak ada yang memiliki dua keyakinan dalam satu rumah, apa pun alasannya,” suara Bapak berubah parau (halaman 94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Bapak sangat yakin anaknya dapat mengerti dan memahami pernyataannya. Namun, tanpa sepengetahuan sang bapak, sang anak sebenarnya sangat membencinya, karena hubungannya dengan lelaki beda agama itu sudah demikian jauh, karena ia sudah tidak perawan lagi. Tapi, bukan soal tidak perawan itu yang menggelisahkannya, melainkan kepergian sang kekasih setelah tidak mendapat restu dari orangtua. Meskipun demikian, perlawanan yang dilakukan sang anak hanyalah perlawanan dalam kepatuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat terbaca di akhir cerita. Aku masuk ke dalam rumah, kutatap wajah Bapak yang sedang duduk bersila di hamparan sajadah menanti maghrib tiba. Semakin tua, semakin sering dia berdoa. Kelu kucium tangannya. Tanpa kata aku pergi, tanpa ingin kembali ke rumah ini, sampai aku tahu apa yang kumau. Tak apalah aku dibilang egois, sekali-kali (halaman 97). Ia membenci bapaknya, tapi ia masih menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang nelangsa juga tergambar dalam cerpen Happy Salma yang lain, Ibu dan Anak Perempuannya. Dalam cerpen ini, Happy Salma menggunakan metafor yang menarik, “Waduh, halaman rumah harus dirapikan. Walaupun tanaman tropis berwajah hijau dan segar, tapi kalau tidak ditata, ternyata bisa menyesakkan juga. Jadi, penghuni rumah yang sedang sakit pun tercermin.” (halaman 29). Kalimat simbolik itu merujuk pada sang ibu yang memang benar-benar sakit parah dan hanya tergolek lemah di ranjang, karena mengidap sakit gula, sekaligus merujuk seorang anak perempuan, Arum, yang “sakit” karena harus melayani laki-laki hidung belang setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan nelangsa di sini adalah sang ibu yang ditinggal pergi suami dan anaknya sekaligus. Suaminya menikah dengan gadis seusia anaknya dan tega meninggalkan istrinya nelangsa. Sementara anak perempuannya, Arum, kawin lari dengan laki-laki yang sudah beristri, namun kemudian ditelantarkan. Sejak itu dan karena itu pulalah Arum hidup dari satu laki-laki ke laki-laki lain karena hanya dengan cara dan jalan seperti itulah Arum dapat menjaga ibunya untuk terus berobat guna menghadapi penyakit gula yang mematikan dan membutuhkan biaya selangit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen Pertemuan, Happy Salma berhasil bertutur dengan halus sehingga pembaca dikejutkan di akhir cerita. Cantik, perempuan itu, diperintahkan ibunya untuk mencari kakaknya yang tidak pernah berkabar lagi. Dengan perasaan terpaksa, Cantik mencari kakaknya, Bang Jul, yang diketahui tinggal di Depok. Ternyata, pertemuan itu sangat mengejutkan karena kakaknya yang dulu pernah bekerja sebagai office boy di sebuah supermarket, kini menjelma menjadi waria atau banci yang cantik. Yang lebih mengejutkan lagi, dari kamar kakaknya itu keluar seorang laki-laki bule berbadan tegap. Cantik lemas, Cantik terluka, tak mampu berkata apa-apa selain menyampaikan pesan dari ibunya agar kakaknya segera pulang meskipun ia sendiri tak berharap kakaknya yang telah berganti kelamin itu pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, perempuan, yang muncul dalam cerpen Happy Salma adalah sosok perempuan yang nelangsa. Perempuan yang sakit. Sakit karena suaminya kawin lagi. Sakit karena anaknya kawin lari dengan laki-laki beristri dan kemudian menjadi pelacur. Sakit karena anak laki-lakinya menjelma banci yang cantik dan menjual diri. Sakit karena dilarang kawin dengan laki-laki pilihannya sendiri meskipun berbeda agama. Sakit karena tak dapat menghilangkan pusaka dari dirinya sehingga harus bersetubuh dengan siluman (Umi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy Salma berhasil menyuguhkan sebuah karya sastra yang tidak saja memikat, tapi juga mencerahkan. Bahwa masih ada persoalan perempuan yang perlu disuarakan secara terus-menerus dari hati yang paling dalam, dan masih banyak pula permasalahan yang perlu diperbaiki. Karena, “Aku sadar, aku pun bukan aku yang dulu. Waktu telah mengubahnya, ia telah mengubah segalanya.” (halaman 92). Cerpen-cerpen yang terhimpun dalam Pulang menjadi alasan kuat kenapa kita harus menyambutnya dalam khazanah sastra Indonesia. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://kompas.co.id/read/xml/2008/09/09/23482695/perempuan.nelangsa.dalam.cerpen.happy.salma.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-5269046724634273562?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/5269046724634273562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=5269046724634273562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5269046724634273562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5269046724634273562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/12/perempuan-nelangsa-dalam-cerpen-happy.html' title='Perempuan Nelangsa dalam Cerpen Happy Salma'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SUdZ85J6q8I/AAAAAAAAAe8/7Ie0apqjHPw/s72-c/happysalma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-5596536701654578337</id><published>2008-09-12T07:11:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T06:48:14.123-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>HUJAN PERTAMA*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SM0WBa1eNZI/AAAAAAAAAYY/6E9jIIhD6vs/s1600-h/azhari.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SM0WBa1eNZI/AAAAAAAAAYY/6E9jIIhD6vs/s320/azhari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245873354595775890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;&gt; AZHARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga sore ibu memandang ke timur.  Memacakan pandang ke dinding gunung. Seperti bersiap menelannya.&lt;br /&gt; Aku ingat begitulah kebiasaan ibu dulu menanti kepulangan mendiang bapak setelah  empat-tiga hari berada di pasar. Padahal pasar yang jaraknya 135 Km dari kampung tidaklah berada di sebalik gunung itu, tapi di barat. Kata ibu gunung yang biru legam itu memberikan ketentraman tatkala menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu ibu akan berlama-lama berdiri seraya tangannya tak lepas-lepas menyumpal tembakau di sela-sela gusinya sambil sekali-kali memuntahkan ludahnya ke tanah. Dia melakukannya dengan betah dari  ashar sampai magrib. Dan dia dengan tekun akan menuturkan perihal; gerak awan, wangi angin, uap mentari, kenisbiaan cuaca,  suara-suara yang digemakan oleh burung-burung, kepada kami yang setia menemaninya. Ibu menyebutnya sebagai penanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sedang memperkirakan hujan pertama musim ini turun.&lt;br /&gt;"Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu," tunjuk ibu, kami semua menengadah mengikuti telunjuk ibu, "di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing berbalik jarum jam menuju laut.  Dan hiruplah bau angin yang seharum kulit sagu yang mengantar awan itu. Sebentar lagi kalian juga akan menyaksikan sekawanan burung hujan akan memotong dari utara menuju selatan. Mereka akan merontokan bulu-bulunya.  Itu tandanya musim kawin hampir tiba. Aha, mana si Tanyak," ibu terkekeh lama sekali sambil menghapus airmatanya yang ikut keluar, matanya mencari-cari Apa Tanyak, tetangga kami yang masih berfamili dengan ibu, "aku menyarankannya mencari jejatuhan bulu-bulu burung hujan itu agar jodohnya dimudahkan."  Kami semua tertawa mendengar gurau ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka  aku yakin empat belas hari bulan, dan itu dua hari lagi, hujan akan turun dari pukul tujuh pagi sampai habis ashar. Berhenti hingga magrib. Dari isya  hujan akan terus turun lagi sampai bang subuh pertama. Begitulah seterusnya selama satu Jum'at lamanya. Paloh sudah kau tambal atap kandang kambing, hah?. Dan aku berharap kalian semuanya mengasah cangkul, menyiapkan kerbau-kerbau kita, pun kuk  jangan sampai lupa. Kita bersiap turun ke sawah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tapi tadi hampir subuh aku mendengar kulik elang, menyayat sekali! Apakah itu artinya suami Ernawati bakal ditemukan?" aku menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tidak Paloh. Tak ada hubungannya. Aku juga mendengarkannya. Itu kematian dari jauh – entah siapa?. Tak sampai ke sini. Percayalah!" Ibu berusaha meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya. Kemahiran ibu dalam melihat tanda-tanda langit, seperti memperkirakan musim, atau  meruwat kapan kepastian puasa pertama atau hari raya sangat membantu penduduk kampung yang masih memegang kuat tanda-tanda alam sebagai penunjuk. Padahal almanak, jam dinding terpacak di setiap dinding rumah mereka. Ibu tak hanya pandai dalam hal membaca tanda-tanda, tapi dia juga memiliki keistimewaan kecil lainnya seperti; mengurut, membantu persalinan, memandikan jenazah, bahkan menyembelih ayam. Kepandaiannya tersebut telah mendudukan ibu di struktur tuha peut di kemukiman kami, sebagai ahli falak yang menyampaikan tanda baik-buruk,  boleh-tidaknya susuatu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Begitu gembiranya ibu sore ini. Aku seperti melihat keriangan yang sama, apabila bulan di langit semakin mengecil yang menandakan bahwa bulan Syaqban akan segera berlalu, dan bulan Ramadhan segera tiba. Kegembiraan itu ditunjukan ibu dengan senandung kecil yang kata-katanya dapat diartikan sebagai ucapan terima kasih kepada yang kuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hayo kalian semua masuk ke rumah. Aku tak lagi mencium bau kulit sagu. Angin berubah aroma setengik pelitur. Dan itu mendatangkan penyakit."&lt;br /&gt;Tak lama kemudian terdengar azan magrib. &lt;br /&gt;Aku masih sempat melihat sekawanan burung hujan memotong utara menuju selatan dan merontokkan bulu-bulunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menahan nafas, ada banyak harapan dari hujan pertama musim ini. &lt;br /&gt;Tapi aku tak sepenuhnya yakin. Bukan karena hujan pertama tak akan mengucur seperti perkiraan ibu. Ibu selalu tepat. Sudah dua musim sawah-sawah kami yang luas itu terendam air, tapi kami juga tak dapat ke sawah. Karena  perang dua musim antara Orang Gunung dan Tentara Pemerintah telah membuat sawah yang terendam yang mestinya dicangkul, ditaburi benih tak ada artinya. Ibu melarang kami turun ke sawah - takut terjadi apa-apa dengan anaknya. Seperti Utoh Daham yang tertembak musim lalu tatkala menutup pintu air sawahnya. Seperti Nen yang diciduk tepat di tengah sawah dikira sebagai mata-mata musuh. Ada banyak peristiwa yang telah membuat orang kampung kecut untuk mengerjakan sawahnya, ladangnya, atau melepas ternak-ternaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi musim ini perang sepertinya agak mereda. Kontak tembak sudah jarang terdengar. Truk tentara hanya sekali-kali melintas di jalan-jalan kampung. Orang Gunung juga sudah tak lagi membuat ceramah di balai-balai. Dan aku mendengarkan dari  ibu yang mendapat kabar dari Ulee Mukim mereka yang berperang terikat janji untuk tak saling menyerang. Dan orang kampung mempercayainya. Mereka percaya kuasa doa. &lt;br /&gt; "Mereka telah teken untuk tak saling menyerang."&lt;br /&gt; "Sampai kapan bu?" tanya Bang Husein&lt;br /&gt; "Enam bulan. Ada kesempatan buat panen. Setelahnya kita siapkan perkawinan kau!"&lt;br /&gt; Kami semua senang mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua musim tak turun ke sawah, meski air meruah dan sawah-sawah menjadi danau besar, telah membuatku dan Pii, adikku,  tak lagi memikirkan  sekolah, Abang Husein pun sudah bermalu muka dengan pihak keluarga calon istrinya karena tak sanggup menunaikan mahar yang cuma beberapa manyam itu - padahal empat-lima dari berupuluh-puluh  lubang sawah yang kami punya lebih dari cukup untuk sekadar membayar mahar sekaligus menyiapkan  perkawinan, bahkan sampai ke acara antar-mengantar tujuh isi talam kalau-kalau kelak calon istrinya mengandung. Selebihnya utang ibu yang kian menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dan aku dan Pii bisa melanjutkan sekolah bu?"&lt;br /&gt; Ibu  mengangguk. Aku dan Pii mengadu telapak tangan.   &lt;br /&gt;Ada banyak hal yang terencanakan dari panen sawah kami kelak yang membentang hampir 50 hektar. Selain buat sekolah aku dan Pii, dan perkawinan Bang Husein, yang terpenting adalah membayar utang-utang yang ditinggalkan almarhum bapak. Sebagai pedagang bapak meninggalkan utang yang tak sedikit empat tahun silam. Kami sekeluarga berhasrat melunaskannya awal-awal sejak bapak meninggal, tapi empat tahun belakang ada banyak hal yang terjadi. Dua musim kemarau ditambah dua musim perang membuat kami harus menunda segalanya. Menjual sawah, ladang, kerbau pun tak ada gunanya. Tak ada orang gila yang mau membelinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya kami yang menyimpan harapan besar dari hujan pertama musim ini, orang-orang kampung juga memendam hal yang sama. Masing-masing harapan tentunya mempunyai nilai yang sama, sebesar atau sekecil apapun harapan tersebut. Meski mereka cuma punya sepetak lubang untuk menanam dan berharap dari panen musim ini dapat mengkhitan rasulkan anaknya, atau seperti Tunda Munah yang menyimpan harapan untuk dapat menjenguk kakak tirinya di panti jompo di ibu kota provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mak Husein beri aku selubang yang dekat dengan penggilingan  agar aku tak susah-susah mengerjakannya. Rindu sekali aku dengan Kak Sabariah. Tujuh tahun aku sudah tak jumpa dengannya. Kau kan tahu sendiri Kak Sabariah suka sekali dengan beras baru, apalagi itu beras tumbukan. Aku akan menumbuknya sendiri barang beberapa are. Beberapa di antaranya aku berikan ke panitia zakat, sudah empat tahun badan ini tak pernah bersih tak pernah berzakat." Harap janda tua tanpa anak itu kepada ibu.&lt;br /&gt;Kabar tentang hujan pertama yang bakal turun dua hari lagi telah menyebar secepat fitnah yang  biasanya memenuhi mukim kami. Selepas berjamaah isya di meunasah tadi aku, Pii, dan  Abang Husein menceritakannya kepada jamaah  atas suruhan ibu. Mereka menyambutnya dengan gempita. Dan beramai-ramai ke rumah kami untuk memastikan kebenaran tersebut. Selebihnya adalah meminta kesedian ibu agar diberikan kesempatan buat me-mawah sawah kami yang tak terhingga jumlahnya, dengan mawah nantinya hasil panen dibagi dua. Setengah buat yang punya sawah, setengah buat yang mengerjakan. Ibu berjanji akan memberi ¾  sawahnya buat di-mawah, sedang sisanya akan dikerjakan sendiri. Di depan Keujreun Ubit, ibu mengikralkan perihal itu. Ibu juga menyatakan menyedekahkan selubang sawah buat Ernawati. Sawah yang diberikan ibu tidak besar memang, tapi itu telah membesarkan hatinya yang suaminya diculik sebulan lalu. Tapi tetap tak dapat menguburkan lara pengantin baru itu yang cuma baru mengecap beberapa malam masa bulan madunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah sawah itu boleh kupakai buat tebusan Pang Kadi?”&lt;br /&gt;Ibu mengangguk. Semua geming mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain harapan aku melihat gairah yang menyala-nyala di mata mereka malam ini. Empat pelita yang terpasang di empat sudut rumah ditambah satu petromaks di tengah beranda yang dengan kuat memompakan api ditambah dengungnya  seakan tak sanggup menyamai cahaya gairah yang dipancarkan mata-mata itu. Mata-mata yang dipenuhkan lelatu. Gairah untuk mencium kembali wangi lumpur, melepaskan kebekuan tulang-belulang, dan menyemburkan peluh setelah empat musim terpendam entah di mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu," tunjuk ibu keesokan harinya kepada orang-orang kampung yang ingin menyaksikan tanda bahwa besok pagi hujan pertama musim ini bakal turun. Semua menengadah mengikuti telunjuk ibu. "Di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing persis jentera menuju laut. Dan hiruplah bau angin yang seharum kulit sagu yang mengantar awan itu. Sebentar lagi kalian juga akan menyaksikan sekawanan burung hujan akan memotong dari timur menuju barat. Dengan berahi mereka akan merontokan bulu-bulunya. Ikutilah gerak matahari yang lamat-lamat turun di lekung antara gunung. Lama sekali matahari akan bertahan di belahan itu. Matahari seperti tak ikhlas memberikan tugasnya kepada hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari akan menusukkan cahaya terakhir  tembaganya yang seperti buraian sapu lidi pada daun-daun, batu-batu, pada bulu burung-burung hujan yang kemilau karenanya."&lt;br /&gt;Maka  aku yakin empat belas hari bulan, dan itu satu hari lagi, hujan akan turun dari pukul tujuh pagi sampai habis ashar. Berhenti hingga magrib. Dari isya  hujan akan terus turun lagi sampai bang subuh pertama. Begitulah seterusnya selama satu Jum'at lamanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kalian sudah menyiapkan benih, cangkul, tenggala, memberikan makan kerbau-kerbau kalian agar kuat, hah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengangguk. Ada yang tersenyum. Ada desis syukur kepada Tuhan.&lt;br /&gt;"Lihat!" Seru seseorang. Beberapa bulu burung hujan jatuh bergulung berkilauan ditikam sinar matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku dan Pii mengikir cangkul, pun mata tenggala hampir subuh. Bang Husein semenjak lepas magrib ke rumah Keujreun Ubit bermufakat ihwal pengaturan air. Ibu tampak cemas, ia habis pulang memandikan jenazah Pang Kadi, suami Ernawati yang hilang sebulan lalu, senja tadi ditemukan tak bernyawa di pertikungan jalan kampung. Ibu tegak di tubir tingkap yang menghadap ke timur. Jemari lisutnya dengan gentar membetulkan letak tembakau di sela gusinya. Angin bergulung-gelung keras berdengung bagai amuk sejuta lebah. Mengangkut jutaan serbuk hujan yang bakal tumpah besok pukul tujuh pagi memenuhi sawah-sawah kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sebentar lagi akan terdengar kulik elang, mensyiarkan kematian Pang Kadi kepada seluruh kampung. Pukul  setengah tujuh pagi akan gerimis sebentar. Itu isak tak ikhlas si Kadi. Air mata orang mati. Baru kemudian pukul tujuh, setengah jam kemudian, hujan yang sebenarnya  turun. Hujan pertama musim ini. Dengarlah serbuk hujan mulai terpecah-belah. Dibantu kilat. Ditambah gemuruh. Hujan akan turun rapat-lebat.  Memenuhi sawah-sawah kita dengan air.  Tapi kita pantang menanami sawah yang sebelumnya sudah dibasahi air mata orang mati, Paloh!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu  memandang terus ke timur. Menyugil-nyugil gusinya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muara Duyung, 2002&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Cerpen ini sudah pernah dimuat Koran Tempo. Ini merupakan naskah asli yang ditulis pada 26 Desember 2002, dan sepertinya belum selesai. Dokumen pribadi saya, kamal farza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuha peut (Aceh); struktur pemerintah non-formal tingkat kampung di Aceh, yang terdiri atas empat tetua, yang dianggap bijak (wiseman)&lt;br /&gt;Manyam (Aceh); satu manyam sama dengan 3 gram emas.&lt;br /&gt;Are (aceh); takaran beras sama dengan satu bambu&lt;br /&gt;Meunasah (Aceh); surau&lt;br /&gt;Keujreun (Aceh); petugas yang mengatur pembagian air di sawah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-5596536701654578337?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/5596536701654578337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=5596536701654578337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5596536701654578337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5596536701654578337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/09/hujan-pertama.html' title='HUJAN PERTAMA*'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SM0WBa1eNZI/AAAAAAAAAYY/6E9jIIhD6vs/s72-c/azhari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-5114682454311745146</id><published>2008-07-29T04:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T07:26:42.306-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>LANDARWATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_bKrNl-QoNGE/SJB57gyXp8I/AAAAAAAAAL8/cWJnAnOG4hM/s1600-h/30072008060.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_bKrNl-QoNGE/SJB57gyXp8I/AAAAAAAAAL8/cWJnAnOG4hM/s200/30072008060.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228813230697588674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CERPEN J. KAMAL FARZA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika Salim pulang ke rumah kostnya, dia menemukan enam lembar sobekan kertas pesan dalam kotak surat dekat pintu kamar.  Lelaki muda itu menaruhnya dimeja,  Ia tidak membacanya lebih dahulu.  Melainkan melangkah ke kamar belakang untuk membasuh mukanya yang kelihatan cukup penat.&lt;br /&gt; Lalu Salim meraih handuk yang tergantung di balik pintu kamar, melap  muka dan tangannya.  Ia menyalakan sebatang rokok, mengisapnya salam-dalam, dan membaringkan badannya di dipan kecil kamar kostnya.  Baru kemudian memungut sobekan sobekan kertas yang tadinya ditelantarkan di meja.&lt;br /&gt; Kertas pertama ditulis Iwan, temannya yang berkacamata minus. ”kemana saja kau Gam, setiap aku datang kau ndak pernah ada.  Datang ke rumah ya, aku punya koleksi terbaru karangan Srengenh,”: begitu tulis Iwan.&lt;br /&gt; Lelaki yang akhir-akhir ini sangat sibuk dengan tugas-tugas jurnalistik itu, tersenyum geli membaca tulisan Iwan.  Lalu ia meraih sobekan kertas kedua, yang ditulis Salam adik bungsunya.  :Bang, Salam pulang kampung.  Percuma saja disini , abang ndak pernah dirumah.  Oh ya , maaf, beberapa buku abang ku bawa pulang.”&lt;br /&gt; Salim mendesah berat.  Ada penyesalan di wajahnya ketika membaca pesan  adiknya.  Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan adiknya semata wayang itu, yang datang mengunjunginya karena rasa kangen, justru disebabkan ia tidak lagi pernah pulang ke kampung dalam dua tahun terahkhir.  Dan kedatangan Salam, tidak dilayani secara patut.   Ia sebenarnya merasakan juga bahwa waktunya sangat banyak ia habiskan untuk kepentingan perkumpulan dan tugas-tugas sebagai jurnalis muda yang baru bekerja di sebuah pererbitan.  Bahkan waktunya yang secara khusus sudah di diagendakan untuk kuliah dan istirahat pun dilahap dhabis oleh kesibukan-kesibukannya.&lt;br /&gt; Pesan ketiga sama sekali tidak menarik dibaca.  Hanya tulisan cakar ayam yang ditulis Asep, teman selorohnya di gardu. ”Kawan , kau sombong sekarang., ndak pernah gabung lagi,” hanya begitu bunyi tulisan Asep yang amburadul dan lucu.&lt;br /&gt; Tetapi mata Salim agak mendelik ketika membaca sobekan kertas keempat.  Ia kenal betul tulisan tangan dikertas itu, ditulis oleh seorang mahasiswi, yang selama ini telah mengisi hari-hari pentingnya selaku pejaka dan aktivis.  Seorang kawan paling dekat yang banyak memberikan perhatian bagi aktivitas dan cita-citanya.  Landarwati.&lt;br /&gt; ”Bang Agam, hari ini 17 Januari.  Barangkali hari terahkhir Wati bisa datang ke tempatmu.  Orangtuaku tidak lagi membiarkanku keluar rumahm, untuk jangka waktu yang tidak ditentukannya.&lt;br /&gt; ”Ada seorang lelaki beberapa hari lalu datang meminangku untuk jadi istrinya.  Nampaknya ayah setuju, karena ayah menganggap lelaki itu sudah mapan dan cocok untukku.  Sekarang mereka tinggal menunggu persetujuanku saja, sampai waktu tanggal 20 bulan ini.&lt;br /&gt; ”Aku ndak mau, Bang, kawin dengan lelaki itu.  Meskipun ayah selalu membujuk bahwa lelaki itu adalah anak orang kaya dan terhormat.   Abang harap datang ke rumah sebelum tanggal 20.  Wati berharap, agar abang memberikan jalan terbaik bagi Wati dan dapat membatu mencegah rencana ayah ini, Adikmu, Landarwati.”&lt;br /&gt; Salim terperanjat dan tergopoh bangun dari pembaringan,  Ia segera mengambil kalender yang tergantung di dinding hari ini sudah tanggal 23.&lt;br /&gt; ”Oh Tuhan, salahkah kesibukan yang kulakukan ini?  Kesibukan yang telah membuatku banyak kehilangan orang-ornag  yang mendorong ku untuk bisa seperti ini?”&lt;br /&gt; Pesan kelima dan keenam yang ditulis dua kawan nya Dinu dan Udin sama sekali tak menarik lagi perhatiannya.  Pikirannya runyam, dan lemah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ketika Salim baru saja menyalakan rokoknya yang entah kebatangan keberapa, sekonyong konyong ia dikejutkan oleh ketukan pintu.  Seorang lelaki kerempeng berperawakan kecil tegak didepannya , dan mengucapkan salam.&lt;br /&gt;”Apakah anda yang bernama Salim alias Agam?” tanya lelaki muda yang kini sangat dekat berdiri di depannya.&lt;br /&gt;”Benar anda siapa,”Salim menyodorkan tangan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;”Aku Ajim, sepupunya Kak Wati,” lelaki itu juga menyodorkan tangan.  Sebelum sempat dipersilakan masuk , lelaki yang mengaku bernama Ajim itu melanjutkan:&lt;br /&gt;”Maaf Bang . saya buru-buru.  Saya hanya ingin mengantarkan surat kak Wati untuk Anda.  Posisinya kini betul-betul terjepit, dan saya berharap Anda dapat membantunya.”&lt;br /&gt;”Dimana dia sekarang?” Salim bertanya gusar.&lt;br /&gt;”Di rumah.  Nanti malam dia akan dinikahkan.”&lt;br /&gt;”Jadi, aku harus berbuat bagaimana?” Salim kembali bertanya. Ia gugup.&lt;br /&gt;”Di surat semua dijelaskan.  Bersiap-sipalah, apapun yang akan Anda lakukan untuknya, waktunya tinggal sedikit,” kata Ajim.&lt;br /&gt;Salim mematung seperti patung.  Ia tidak sadar , kalau orang yang didepannya sudah sangat jauh meninggalkannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Pesta cukup meriah di rumah bercat putih di ujung jalan.  Puluhan mobil diparkir berderet sepanjang jalan, persis barisan upacara.  Sementara di halaman rumah, serombongan remaja sudah siap untuk menyambut datangnya sang pengantin laki-laki.&lt;br /&gt; Suasana rumah cukup hinggar-bingar .  Sekelompok  pemain  musik keyboard tak henti-hentinya unjuk kebolehan membawakan lagu-lagu dangdut.  Sementara agak jauh dari rumah itu sebuah taksi parkir ditempat yang agak gelap.&lt;br /&gt; Tiba-tiba suasana di rumah yang memang sudah gaduh oleh kemeriahan pesta, bertambah gaduh, karena tanpa diduga-duga lampu di rumah itu padam total.  Entah salah siapa, lampu yang merupakan jaringan listrik milik PLN bisa mati.  Entah sengaja , entah memang rusak.&lt;br /&gt; Tetapi setelah lima menit kemudian, lampu hidup kembali.   Suasana  kembali ceria.  Musik dilanjutkan.  Semua yang hadir dipesta, masing-masing berdoa sesuai keyakinan masing-masing, agar lampu tidak lagi padam.  Merka berharap agar suasana bahagia ini bisa berjalan sukses.&lt;br /&gt; Namun kecerian yang sudah terlihat dimasing-masing wajah kembali kecut, ketika dari kamar pengantin para wanita memekik-mekik sembari mulut mereka mengucapkan yang Landarwati sudah tidak ada lagi.  Inilah puncak kegaduhan pesta.&lt;br /&gt; ”Waduh, kemana?” Tanya Nyonya Rahmi sang ibu yang kebetulan tidak ikut merias pengantin .&lt;br /&gt; ”Entahlah.  Yang pasti, jendela kamar agak sedikit renggang.” jawab Nyonya Musidah.&lt;br /&gt; ”Tolong cari,” pinta Pak Nurdin, ayahnya Wati dengan nafas tersengal-sengal orang tua ini berseru parau: ” Cepat cari, sepuluh menit lagi pengantin lakinya datang!”&lt;br /&gt; Tetapi tidak satu pun orang yang diperintahnya mengetahui dimana Landarwati berada.   Berbagai spekulasi dan dugaan pun muncul, ada yang mengatakan Wati sengaja lari, ada yang menduga justru Wati dilarikan hantu.  Bahkan ada juga yang mengira bahwa Wati dilarikan orang atau maling.  Namun dugaan terakhir segera terbantah, karena Wati tidak menjerit pada saat lampu padam.&lt;br /&gt; ”Telpon polisi, minta bantuannya untuk mengusut kasus ini, jangan-jangan ada pihak yang sengaja mengacau.” perintah Pak Nurdin.&lt;br /&gt; Beberapa menit kemudian sepasukan plolisi meluncur ke tempat kejadian, seiring tibanya rombongan pengantin laki-laki.&lt;br /&gt; Pak Nurdin sibuk memberikan keterangan pada polisi, sampai-sampai ia lupa menyambut rombongan linto baro.&lt;br /&gt; Setelah semua duduk perkara dan identitas serta photo Landarwatri pun sudah berada ditangan polisi, mereka mulai melakukan pengejaran.  Seluruh jalan di dalam kota diperintarkah blokir.   Demikian pula jasa wartawan dan para normal pun dimanfaatkan keluarga Pak Nurdin.  Tapi sayangnya, sampai tengah malam bahkan sampai pagi pun. Landarwati tetap belum diketermukan.&lt;br /&gt; Pagi besoknya, beberapa koran terbitan kota memberitakan peristiwa unik raibnya pengantin perempuan.  Danb di halaman lain juga termuat sebuah iklan berita kehilangan.  Siapa pun yang mengetahui dimana Landarwati berada, harap menghubungi keluarganya dengan alamat tertera.   Hadiah akan sediakan espantasnya dan tidak akan dituntut&lt;br /&gt; Sayangnya  Landarwati tetap tidak diketemukan.  Bahkan hingga saat naskah ini ditulis Landarwati juga belum kembali.   Semuanya jadi sibuk.&lt;br /&gt; Aku sebagai sahabatnya yang tau peristiwa itu terjadi, juga enggan menelepon Pak Nurdin, atau pun redaksi koran kota, meskipun diiming-imingi hadiah, keenggannanku beralasam, sebab, disamping hal ini menyangkut kawan dekatku juga aku sangat tidak suka bila dijadikan saksi dipengadilan, Dalam hati, aku berkomentar: Nekat juga si Salim itu... (Aceh 1995, revisi 1997).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-5114682454311745146?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/5114682454311745146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=5114682454311745146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5114682454311745146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/5114682454311745146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/07/landarwati.html' title='LANDARWATI'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_bKrNl-QoNGE/SJB57gyXp8I/AAAAAAAAAL8/cWJnAnOG4hM/s72-c/30072008060.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-8606844714815910899</id><published>2008-07-26T13:43:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T13:46:16.695-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>Di Bilik</title><content type='html'>Sajak J Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bilik rumah&lt;br /&gt;kita bercumbu melakukan senggama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bilik dapur&lt;br /&gt;engkau merayuku menjanjikan indahnya cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bilik hotel&lt;br /&gt;engkau mendekapku, diantara mikrofon dan botol bir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bilik ruang kerjamu kau suguhi permen,&lt;br /&gt;kau katakan semua ini adalah sandiwara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bilik jaket merah jambu&lt;br /&gt;kau keluarkan pistol lalu menembak kepalaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: &lt;a href="http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&amp;amp;view=4.16.02-5.03.02"&gt;http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&amp;amp;view=4.16.02-5.03.02&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-8606844714815910899?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/8606844714815910899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=8606844714815910899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/8606844714815910899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/8606844714815910899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/07/di-bilik.html' title='Di Bilik'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-8075821657218044272</id><published>2008-07-26T13:19:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T13:20:39.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>Cahaya-Mu</title><content type='html'>Sajak J. Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kusadari keagungan-Mu&lt;br /&gt;yang menghembuskan angina-angin&lt;br /&gt;membentangkan bumi, mengaliri sungai-sungai&lt;br /&gt;sampai laut Engkau gelombangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh kerdil aku dalam tatap-Mu&lt;br /&gt;sehingga kucoba titipkan pengabdian&lt;br /&gt;lewat perantara subuh atau isya&lt;br /&gt;lewat tahajud, lewat dzikir&lt;br /&gt;menyebut-Mu, tak pernah letih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Yang Maha Rahman&lt;br /&gt;curahkanlah cahaya dalam hidupku&lt;br /&gt;dalam sarafku, dalam dagingku&lt;br /&gt;dalam pengabdianku&lt;br /&gt;agar tambah tegar&lt;br /&gt;menikmati sisa-sia usiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya Allah pijarkanlah cahaya-Mu&lt;br /&gt;agar imanku tambah kokoh&lt;br /&gt;menahan arus globalisasi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Jangan panggil aku dulu, Tuhan&lt;br /&gt;Sebelum pengabdian ini&lt;br /&gt;Engkau restui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, Desember 1991&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-8075821657218044272?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/8075821657218044272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=8075821657218044272' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/8075821657218044272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/8075821657218044272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/07/cahaya-mu.html' title='Cahaya-Mu'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-921414645303607311</id><published>2008-07-26T13:00:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T13:07:37.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>Aku Rindu Kau Tak Perlihatkan Wajahmu</title><content type='html'>Sajak J Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku adukan padaMu Kekasih&lt;br /&gt;tentang darah yang tumpah&lt;br /&gt;mengingatkanMu kekawatiran para malaikat:&lt;br /&gt;manusia perusak bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau diam Kekasih&lt;br /&gt;aku salah tingkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menangis, Engkau tertawakan aku&lt;br /&gt;aku gelisah, Kau tegur aku:&lt;br /&gt;”itu bukan urusanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukeluhkan semesta lautan, Kekasih&lt;br /&gt;kucari bayanganMu&lt;br /&gt;Engkau mencibirku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;°Hai anak malang, apakah kau kira Aku diam, lalu&lt;br /&gt;membiarkan mereka merobek kehormatan istrimu,&lt;br /&gt;memperkosa ibumu,&lt;br /&gt;dan mengisap darah dan airmatamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku merindukanMu, Kekasih&lt;br /&gt;perlihatkan Engkau ibu dari segala ibu,&lt;br /&gt;ayah dari segala ayah,&lt;br /&gt;maukah kau mampir di ruang tamu rumahku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku membutuhkanMu, Kekasih&lt;br /&gt;pedang dari segala pedang&lt;br /&gt;perkasa dari segala perkasa,&lt;br /&gt;berkuasa dari segala kuasa,&lt;br /&gt;tuhan dari segala tuhan&lt;br /&gt;maukah kau datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untukMu, Kekasih&lt;br /&gt;ambillah gairah hidupku&lt;br /&gt;hisaplah puting payudaraku,&lt;br /&gt;gincu bibir merahku,&lt;br /&gt;bokong, vagina dan penisku,&lt;br /&gt;ambillah hati, jiwa dan raga rapuhkuh&lt;br /&gt;anya kepadaMu aku rela&lt;br /&gt;lain tiada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: &lt;a href="http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&amp;amp;view=4.16.02-5.03.02"&gt;http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&amp;amp;view=4.16.02-5.03.02&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-921414645303607311?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/921414645303607311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=921414645303607311' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/921414645303607311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/921414645303607311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/07/aku-rindu-kau-tak-perlihatkan-wajahmu.html' title='Aku Rindu Kau Tak Perlihatkan Wajahmu'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-8140661814346946444</id><published>2008-07-26T12:54:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T12:59:22.086-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAJAK'/><title type='text'>Aku Menemukan Surga</title><content type='html'>Sajak J Kamal Farza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menemukan surga&lt;br /&gt;di telapak kaki ibu&lt;br /&gt;yang dipancarkan lewat tegursapa,&lt;br /&gt;senyum tulus dan cinta sejatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menemukan cinta&lt;br /&gt;di ketajaman sinar matamu&lt;br /&gt;menembus jiwa, tubuh, dan sumsum&lt;br /&gt;kuhati, kerongkongan dan ujung kukuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika senja tiba&lt;br /&gt;aku menghayal, mengigaukanmu&lt;br /&gt;kita nikmati indahnya terbang ke awan&lt;br /&gt;berjuta malaekat mendekat&lt;br /&gt;berjuta sayap tumbuh di tubuh kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika pagi datang&lt;br /&gt;alangkah perihnya seluruh jiwa&lt;br /&gt;tubuh, sumsum, kerongkongan dan ujung kuku&lt;br /&gt;kuengkau tiada&lt;br /&gt;berjuta sepi menyerang&lt;br /&gt;berjuta perih menikam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata para malaekat basah menerima keluh&lt;br /&gt;kesah kitasedangkan para iblis cemburu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menemukan surga&lt;br /&gt;tapi bisakah masuk ke dalamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta-Merak-Aceh, April 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: &lt;a href="http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&amp;amp;view=4.16.02-5.03.02"&gt;http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipsajak.cgi?category=3&amp;amp;view=4.16.02-5.03.02&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-8140661814346946444?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/8140661814346946444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=8140661814346946444' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/8140661814346946444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/8140661814346946444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/07/aku-menemukan-surga.html' title='Aku Menemukan Surga'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6405722868480220437.post-3038236454204129418</id><published>2008-07-21T06:00:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T13:59:17.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>MENUNGGU HUJAN REDA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_bKrNl-QoNGE/SIuPwFhVqbI/AAAAAAAAAJc/3PQrTbGCudA/s1600-h/27072008018.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227429848772094386" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_bKrNl-QoNGE/SIuPwFhVqbI/AAAAAAAAAJc/3PQrTbGCudA/s320/27072008018.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Cerpen J. KAMAL FARZA&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Langit Kota Banda Aceh tiba-tiba murung.&lt;br /&gt;Mendung dan pekat. Padahal lonceng jam dinding&lt;br /&gt;di kamar depan sebuah rumah disudut kota itu,&lt;br /&gt;baru berdetak tiga kali, menandakan masih sangat siang.&lt;br /&gt;Angin cukup deras meruntuhkan daun-daun asam&lt;br /&gt;di sepanjang pagar rumah bercat hijau muda itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong sebuah mikrolet berhenti persis di gerbang pagar. Seorang pemuda bertubuh kerempeng bergegas turun, dan dengan cekatan berlari melawan butir-butir hujan yang sejak setengah jam lalu mengguyur kota.&lt;br /&gt;”Assalamualaikum!” Seru pemuda, dengan tubuh menggigil kedinginan. Seorang perempuan muda menyahut salam, dan menyambutnya dengan ramah. Wajahnya menampakkan kegembiraan yang amat sangat.&lt;br /&gt;”Tumben, datang hujan-hujan,”sambut perempuan itu.&lt;br /&gt;”Aku rindu sekali, Lina. Kupikir, hujan bukanlah suatu hambatan yang berarti untuk menemuimu. Karena rintanganku lebih deras dari hujan sore ini,” pelan suara pemuda itu menahan dingin.&lt;br /&gt;”Apakah kamu keberatan menerimaku sore ini?” Tanya pemuda.&lt;br /&gt;”Wah sejak kapan aku pernah begitu Zaf,” perempuan bertanya demikian manja. ”Bahkan kata-kata yang kau ucapkan barusan, aku sangat senang mendengarnya. Sungguh.”&lt;br /&gt;Suasana hening sesaat. Tak ada yang bersuara, sampai Lina berucap, ”Tunggu sebentar ya Zaf, aku ke belakang,” kata Lina sambil berlalu. Pemuda itu memperhatikannya sampai hilang dibalik pintu. Sebungkus rokok kretek yang sejak tadi nganggur di saku bajunya yang sedikit basah, dikeluarkan. Zaf mengambil sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Asap rokok mengepul-epul memenuhi ruang tamu rumah itu. Sunyi sekali.&lt;br /&gt;Lina datang dengan membawa secangkir kopi, dan segelas teh utnuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;”Diminum kopinya , biar dinginnya hilang,” kata Lina sambil menghirup teh hangat yang ia buat sendiri.&lt;br /&gt;”Ya, terima kasih, Lina. Kamu sungguh mengerti aku,” jawab Zaf. Suasana kembali seepi. Mata Zafra melongok keluar, memperhatikan anak-anak mandi bertelanjang dada. Bau tanah dan daun-daun asam yang gugur. Menebar wangi alami. Nikmat sekali.&lt;br /&gt;”Lina ,” tegur Zaf memecah kesunyian. “Aku datang kemari, sebenarnya punya tujuan yang cukup penting bagiku. Apakah kamu siap mendengarnya?”&lt;br /&gt;”Apakah hal itu menyangkut juga diriku, atau sangat perlu kuketahui?” ”Ya ini perlu kamu ketahui. Dan sangat penting bagi kelanjutan hubungan sangat penting bagi kelanjutan hubungan kita di hari-hari menjelang hubungan kitadi hari meendatang,” ujar Zaf tegas&lt;br /&gt;”Hal apa itu,”tanya Lina.&lt;br /&gt;”Ya,tentang kita, Zafra melongok lagi keluar. Ada seorang anak jatuh karena licinnya tanah yang diguyur hujan.&lt;br /&gt;”Putus , maksudmu?’ Lina tambah penasaran.&lt;br /&gt;”Entahlah. Tapi aku kira sebaliknya.” jawab Zaf datar. ”Kamu masih menganggap aku kekasih,mu kan? Mohonlah jangan bertele-tele, Zaf, pinta Lina.&lt;br /&gt;Suasana sedikit tegang. Meski hujan tambah menderas.&lt;br /&gt;”Kuharap kamu tidak terkejut mendengarnya, Lina. Aku...aku, mau melamarmu dalam waktu tak lama lagi, ” suara Zaf keluar tersendat. Ia menangkap ada keterkejutan pada diri Lina. Lalu, keduanya kembali membisu. Hanya desah nafas yang terdengar tak beraturan.&lt;br /&gt;”Apakah aku tak salah dengar, Zaf. Atau kau telah ngawur, hingga mengeluarkan kata-kata keliru.”&lt;br /&gt;”Pernahkah selama ini aku berolok-olok Lin. Aku serius, kuharap kamu menjawab dengan segala kejujuran dan ketegasan.&lt;br /&gt;Walaupun jawaban yang kuterima barangkali mengecewakanku.’&lt;br /&gt;Suara Zafra hampir tak terdengar, lembut sekali.&lt;br /&gt;”aku bukan tidak terima, Zaf. Aku pikir kau terlalu tergesa-gesa manyatakannya. Bukankah kau pernah bilang , jangan terlalu berharap padaku?’&lt;br /&gt;Lina tak mampu membendung rasa bahagia itu, ia menangis.&lt;br /&gt;”Barangkali kamu betul, Lin, bahwa aku terlalu terburu—buru. Tetapi, sesungguhnya aku juga tak mampu membendung kerinduan yang selama ini menyiksaku dalam meniti hari-hari yang jauh darimu. Bolehkan aku jujur, untuk mengatakan semua ini?” tanya Zaf seolah tak menghendaki jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina diam menikmati kata-kata yang diucapkan Zaf. Lalu: ”Apakah kau telah mempertimbangkan semua ini secara matang, Zaf, Karena perkawinan bukanlah pacaran. Itu tidak sama. Perkawinan adalah untuk mengikuti sunnah Rasullullah untuk hidup dalam satu rumah yang diikat oleh satu pernikahan yang sah. Aku takut kau belum siap, Zaf. Aku tak mau rumah tangga yang kita bangun nanti jadi rusak oleh pertengkaran. Lalu, terjadilah perceraianya. Bukankah perceraian merupakan perbuatan halal yang sangat dibenci Allah?” kalimat panjang ini menggelar deras dari bibir Lina yang gemetar.&lt;br /&gt;”Kalau ukuran kesiapanku adalah uang, kamu betul, Lin. Aku belum siap , aku belum kerja secara tetap, meski ada ijazah.”&lt;br /&gt;Zaf juga gemetar. Untuk menghilangkan kegemetarannya, ia menyalakan lagi sebatang kretek, lalu berucap.&lt;br /&gt;”Tapi , kalau kesiapan yang kamu maksud adalah mental, barangkali aku siap. Dua tahun adalah waktu yang panjang bagiku untuk penjajakan sambil diam-diam aku menilai pribadimu, menilai semua yang kamu miliki. Hingga aku berkesimpulan, bahwa kamulah yang sesuai bagiku,bagi ibu anak-anakku. Kamulah Lina, perempuan yang sering diceritakan para ustaz, dan memenuhi kriteria yang diharap ibuku. Kamu...kamu, cantik lahir dan bathin, Lina.” Detak jantung Lina tambah cepat dan tak teratur. Ia terharu sekali. Memang kata-kata ini yang selama ini dinantinya.&lt;br /&gt;Namun ia berujar.&lt;br /&gt;”Jangan terlalu banyak memuji, Zaf. Aku bukanlah seperti pujiannya.&lt;br /&gt;Aku manusia tidak sempuran, ”tak tahan lagi Lina menangi s dengan suara keras . Tangis bahagia yang amat sangat.&lt;br /&gt;Diluar hujan sedikit mereda. Hanya angin sore yang tambah menderas, masuk lewat pintu jendela yang terbuka lebar. Suasana sejuk dan sunyi. Tapi tangis Lina tambah deras tumpah dari dua matanya yang bening. Tangis keharuan seorang perempuan.&lt;br /&gt;Orang-orang yang tadinya berteduh di sebuah kios di seberang jalan mulai beranjak pergi, seiring hujan yang makin reda. Tapi Zafra tetap tak beranjak dari kursi rotan rumah Lina, ya Zafran , susah untuk beranjak pergi, karena Pipi Lina sangat lengket bersandar di bahunya yang basah. (buat Kemala) ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Majalah Santunan, Aceh, Edisi 195/ Tahun 1992&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;DARI KUMPULAN: "AKU DALAM PENCARIAN"&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6405722868480220437-3038236454204129418?l=sajakfarza.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sajakfarza.blogspot.com/feeds/3038236454204129418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6405722868480220437&amp;postID=3038236454204129418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/3038236454204129418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6405722868480220437/posts/default/3038236454204129418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sajakfarza.blogspot.com/2008/07/menunggu-hujan-reda.html' title='MENUNGGU HUJAN REDA'/><author><name>Guegajah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05601210274654641950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_bKrNl-QoNGE/SSI_B3EadBI/AAAAAAAAAdM/pDJln06CBwk/S220/24072008_002_.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_bKrNl-QoNGE/SIuPwFhVqbI/AAAAAAAAAJc/3PQrTbGCudA/s72-c/27072008018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
